10 menit sebelum subuh di Tanah Deli bukan sekadar hitungan mundur digital. Ini adalah orkestra kafein terakhir, asap rokok yang terburu-buru, dan gema sejarah dari Masjid Raya yang menyatukan kota.
Di Pekanbaru, subuh bukan sekadar transisi astronomis atau panggilan ibadah semata. Ia adalah napas lega di antara dua babak panas yang menyengat, sebuah ritual sosial yang dimulai saat kabut masih memeluk Jembatan Siak.