Dulu, pemandu bakat menilai pemain dari cara mereka berlari atau tatapan mata saat tertinggal. Hari ini? Semuanya direduksi menjadi baris kode dalam laptop berdebu. Apakah kita sedang menyaksikan kematian 'feeling' demi efisiensi desimal?
Apakah kita sedang menonton sepak bola atau simulasi statistik? Mikel Arteta bukan sekadar manajer; dia adalah arsitek yang merancang Arsenal untuk memuaskan dewa baru Liga Primer: Algoritma Ekspektasi.