Lupakan skor akhir sejenak. Apa yang kita saksikan di lantai kayu bukan sekadar perebutan bola oranye, melainkan benturan dua agama basket: improvisasi artistik melawan probabilitas matematika yang dingin.
Semua mata tertuju pada pelukan hangat Curry dan Wiggins. Namun, di balik layar, saya melihat sesuatu yang jauh lebih dingin: eksekusi algoritma yang telah memprediksi skor 135-112 ini sejak Februari lalu. Ini bukan sekadar basket, ini matematika.