Kadin sesumbar perputaran uang mudik tahun ini menembus angka fantastis. Namun, siapa yang sebenarnya menari di atas penderitaan jutaan orang yang terjebak macet berjam-jam di Trans-Jawa?
Sirene meraung lagi. Kita sebut itu musibah, tapi benarkah? Atau ini hanya konsekuensi logis dari tata kota yang kita biarkan semrawut atas nama 'estetika' dan nostalgia?