Lupakan mantra 'rejeki dipatok ayam'. Obsesi kolektif kita terhadap bangun sebelum matahari terbit bukan lagi tentang disiplin, melainkan gejala neurosis kapitalis yang dibalut filter Instagram. Mari kita bicara jujur tentang harga yang dibayar tubuh Anda demi sebuah ilusi 'kesibukan'.
Ketika menahan lapar menjadi satu-satunya tindakan perlawanan yang tersisa di dunia yang menuntut kepuasan seketika. Apakah Anda berpuasa, atau hanya menunda makan?
Jam 11:59 siang adalah medan perang. Deadline menjerit, Slack meledak. Lalu, suara itu membelah udara. Bukan sekadar panggilan ibadah, tapi sebuah intervensi radikal terhadap kapitalisme tubuh kita.
Jam 3:30 pagi. Mata berat, kesadaran masih setengah di alam mimpi, namun tangan menyuap nasi. Ada apa sebenarnya di balik ritual 'menyiksa' jam biologis ini? Spoiler: Ini bukan tentang kalori, ini tentang memprogram ulang jiwa.
Lupakan sejenak perdebatan jumlah rakaat. Ini adalah tentang fenomena sosiologis di mana jutaan orang secara serentak melawan gravitasi (dan kantuk pasca-buka puasa) demi sebuah terapi massal tanpa biaya.
Di dunia yang terobsesi dengan konsumsi tanpa henti, memilih untuk lapar adalah tindakan pemberontakan. Bukan sekadar ritual kuno, doa puasa kini menjadi satu-satunya cara efektif untuk mematikan kebisingan dan mendengar kembali suara hati (atau Tuhan) yang tenggelam.
Jam menunjukkan pukul 19.45. Mata Anda perih dihajar cahaya biru, punggung kaku, dan jempol masih saja menggulir layar secara otomatis. Di sinilah 'Isya' hadir, bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan satu-satunya penghalang antara Anda dan kelelahan mental total.
Lupakan kilat kamera dan pose 'fierce'. Di balik senyum Tyra Banks, ada mesin penggiling mental yang bekerja lembur. Kita bicara soal gaji di bawah standar, manipulasi psikologis, dan kontrak yang membuat Anda berpikir dua kali untuk mengejar mimpi.