Jika Anda mengira dominasi Arsenal murni lahir dari insting tajam seorang pelatih di pinggir lapangan, Anda belum melihat apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Di sebuah ruangan berakses ketat di London Colney, deretan ilmuwan data kini memegang kendali absolut.
Ini bukan sekadar statistik papan atas melawan papan bawah. Ini adalah Molineux di Rabu malam—panggung teater kejam di mana ambisi juara sering kali berakhir menjadi rongsokan.
Apakah kita sedang menonton sepak bola atau simulasi statistik? Mikel Arteta bukan sekadar manajer; dia adalah arsitek yang merancang Arsenal untuk memuaskan dewa baru Liga Primer: Algoritma Ekspektasi.