Lupakan taktik 4-3-3 sejenak. Ada bau gas air mata yang masih samar tercium dari ingatan 2019. Ketika Macan Putih dan Laskar Mataram bertemu, yang dipertaruhkan bukan hanya tiga poin, melainkan sebuah rekonsiliasi sejarah yang tertunda.
Ini bukan sekadar 90 menit perebutan bola. Ini adalah aristokrasi tua yang berhadapan dengan disruptor modern yang tak tahu sopan santun. Saat Die Roten bertemu Die Roten Bullen, jiwa sepak bola Jerman dipertaruhkan.
Lupakan sejenak sepak bola sebagai olahraga 11 lawan 11. Di Portugal, ketika Porto bertemu Sporting, ini adalah benturan dua lempeng tektonik budaya: pemberontak Utara melawan aristokrat Selatan.
Hanya terpisah 40 kilometer, namun berjarak satu galaksi dalam hal ego. Mengapa laga AZ melawan Ajax bukan sekadar derbi, melainkan benturan dua filosofi hidup di Belanda Utara?