Bayangkan sebuah teknologi kuno yang memaksamu berhenti scrolling, berdiri tegak, dan menyinkronkan napas dengan orang asing. Bukan, ini bukan retreat yoga eksklusif di Bali. Ini adalah perlawanan bawah sadar kita terhadap kebisingan digital.
Bukan sekadar penutup ritual. Di saat lutut gemetar dan napas memburu, doa ini menjadi jembatan sunyi antara keletihan fisik dan kerinduan jiwa. Sebuah manifesto spiritual yang sering terucap tanpa dimaknai.
Lupakan sejenak perdebatan jumlah rakaat. Ini adalah tentang fenomena sosiologis di mana jutaan orang secara serentak melawan gravitasi (dan kantuk pasca-buka puasa) demi sebuah terapi massal tanpa biaya.