Sport

Al-Nassr vs Ittihad: Bukan Sekadar Derbi, Ini Etalase Politik Riyadh

Lupakan statistik penguasaan bola atau jumlah gol. Duel ini adalah billboard neon untuk Visi 2030, di mana Ronaldo dan Benzema hanyalah pion mahal dalam papan catur diplomatik MBS yang jauh lebih rumit.

CP
Chris PattersonJournalist
6 February 2026 at 05:01 pm3 min read
Al-Nassr vs Ittihad: Bukan Sekadar Derbi, Ini Etalase Politik Riyadh

Jika Anda menonton laga Al-Nassr melawan Ittihad FC dan hanya melihat 22 orang mengejar bola, Anda mungkin melewatkan pertunjukan utamanya. Di permukaan, ini adalah duel klasik: Riyadh versus Jeddah, Kuning versus Kuning-Hitam, Cristiano Ronaldo versus Karim Benzema. Namun, mari kita bersikap realistis sebentar (dan sedikit sinis).

Apakah ini benar-benar tentang sepak bola? Atau kita sedang menyaksikan iklan pariwisata termahal dalam sejarah umat manusia?

Uang Minyak di Atas Rumput Hijau

Mari kita bedah gajah di pelupuk mata: Public Investment Fund (PIF). Dana kekayaan negara Arab Saudi ini memegang kendali mayoritas atas kedua klub yang bertanding. Jadi, secara teknis, PIF sedang bertanding melawan PIF. Aneh? Tentu saja. Tapi dalam logika ambisi Riyadh, kompetisi domestik hanyalah sarana, bukan tujuan akhir.

Riyadh tidak sedang mencoba memenangkan Liga Champions Asia semata; mereka sedang mencoba membeli relevansi global. Anda tidak mendatangkan pemenang Ballon d'Or hanya untuk mencetak gol ke gawang tim papan bawah liga gurun; Anda mendatangkan mereka agar CNN dan BBC membicarakan Riyadh di segmen olahraga, bukan di segmen konflik regional.

Sepak bola di sini bukan lagi sekadar olahraga rakyat, melainkan instrumen kebijakan luar negeri yang dibungkus jersey polyester. — Analis Geopolitik Timur Tengah

Neraca yang Tidak Masuk Akal (Tapi Siapa Peduli?)

Sebagai seorang analis yang terbiasa melihat angka merah di neraca klub Eropa, apa yang terjadi di Saudi Pro League (SPL) adalah anomali ekonomi. Tidak ada Financial Fair Play yang nyata di sini. Lihatlah kesenjangan nilai pasar sebelum dan sesudah invasi PIF.

MetrikEra Pra-Investasi Masif (2020)Era 'Vision 2030' (Sekarang)
Bintang GlobalPemain veteran tak dikenalRonaldo, Neymar, Benzema, Mane
Hak Siar TVRegional (MENA)130+ Wilayah (Global)
Tujuan UtamaHiburan LokalDiplomasi Soft Power & Piala Dunia 2034

Angka-angka ini bukan pertumbuhan organik. Itu adalah suntikan steroid finansial. Pertanyaannya adalah: sampai kapan? Gelembung Liga Super China pecah ketika uang real estat mengering. Saudi memiliki cadangan minyak, benar, tapi apakah model ini berkelanjutan ketika sorotan dunia perlahan meredup atau beralih ke tren berikutnya?

Diplomasi Jalur Stadion

Narasi resminya selalu tentang "kesehatan masyarakat" dan "inspirasi pemuda". Omong kosong. Ini tentang Piala Dunia 2034. Duel Al-Nassr vs Ittihad adalah gladi resik untuk menunjukkan kepada FIFA (dan dunia) bahwa Arab Saudi mampu menggelar acara kelas berat tanpa cacat.

Stadion-stadion ini adalah ruang negosiasi baru. Ketika para eksekutif dan diplomat asing duduk di tribun VVIP, pembicaraan tidak berkisar pada offside atau penalti, melainkan kontrak energi, investasi infrastruktur, dan aliansi politik. Sepak bola adalah pelumasnya.

Jadi, siapa pemenang sebenarnya dari duel ini? Bukan Al-Nassr, bukan Ittihad. Pemenangnya adalah citra Riyadh yang perlahan tapi pasti bergeser dari negara konservatif tertutup menjadi pusat hiburan global. Tapi ingat, di balik gemerlap lampu stadion dan sorakan penonton bayaran (atau asli, siapa yang tahu pasti?), mesin politik terus berputar, dingin dan penuh perhitungan.

CP
Chris PattersonJournalist

Journalist specialising in Sport. Passionate about analysing current trends.