Arema FC vs Persijap: Potret Buram Industri Sepak Bola yang 'Sakit'
Jangan tertipu skor akhir. Pertemuan ini bukan sekadar 90 menit perebutan bola, melainkan autopsi terbuka terhadap sengkarut manajemen, stadion tanpa nyawa, dan liga yang berjalan tanpa arah jelas.

Mari kita berhenti sejenak berpura-pura bahwa ini adalah pertandingan normal. Ketika Arema FC bertemu Persijap Jepara—baik dalam laga uji coba pramusim atau skenario kompetitif lainnya—kita tidak sedang menyaksikan duel taktik jenius. Kita sedang melihat cermin retak dari tata kelola sepak bola nasional.
Saya, sebagai pengamat yang sudah terlalu lelah menelan janji manis federasi, melihat laga ini sebagai simbol ironi. Di satu sisi, ada Arema FC, raksasa yang terluka (atau mungkin 'dikutuk'?) pasca-tragedi, menjadi tim musafir yang ditolak di sana-sini. Di sisi lain, Persijap, representasi klub legendaris yang berjuang di kasta kedua, mencoba bertahan hidup di ekosistem yang bahkan tidak bisa menjamin jadwal liga berjalan tepat waktu.
Sirkus Keliling Bernama 'Home Base'
Apa yang membuat pertemuan ini begitu menyesakkan? Konteksnya. Arema FC adalah studi kasus kegagalan mitigasi krisis. Bertahun-tahun setelah tragedi yang mengubah wajah sepak bola kita selamanya, klub ini masih pontang-panting mencari kandang. Stadion Soepriadi di Blitar? Ditolak warga. Stadion lain? Renovasi tak berujung. (Apakah ada yang benar-benar memeriksa anggaran renovasi stadion di negeri ini?).
Sementara Persijap, dengan Stadion Gelora Bumi Kartini-nya, menghadapi realitas berbeda: berjuang menarik sponsor di kompetisi Liga 2 yang seringkali dianaktirikan. Kesenjangan ini bukan sekadar soal prestasi, tapi soal kepastian hidup.
"Kita dipaksa mencintai sepak bola yang bahkan tidak mencintai dirinya sendiri. Menonton Arema vs Persijap sekarang rasanya seperti melihat dua orang pasien di ruang gawat darurat yang berebut tabung oksigen."
Kutipan di atas, yang sering bergema di forum-forum suporter akar rumput, bukanlah hiperbola. Itu adalah realitas pahit.
Data yang Tidak Bisa Bohong
Jika kita membedah 'kesehatan' kedua entitas ini dalam konteks industri, angkanya merah menyala. Bukan merah keberanian, tapi merah bahaya. Mari kita lihat perbandingan ironis antara status 'Raksasa' Liga 1 dan 'Pejuang' Liga 2 dalam lanskap kekacauan ini:
| Indikator Kekacauan | Arema FC (Liga 1) | Persijap (Liga 2) |
|---|---|---|
| Status Kandang | Nomaden (Sering Ditolak) | Stabil (Namun Infrastruktur Tua) |
| Beban Psikologis | Trauma Pasca-Kanjuruhan | Ketidakpastian Jadwal Liga 2 |
| Basis Suporter | Terpecah & Terasing | Lokal & Militan |
| Nilai Industri | Tinggi (Tapi Berisiko) | Underdog (Potensi Tak Tergali) |
Siapa yang Sebenarnya Rugi?
Apakah manajemen peduli? Mungkin. Tapi sistem memaksa mereka berpikir jangka pendek: "Bagaimana kita bisa main minggu depan tanpa didemo?" Bukan "Bagaimana klub ini profit 5 tahun lagi?".
Yang paling terdampak bukanlah pemain bintang dengan gaji ratusan juta. Korban sebenarnya adalah ekosistem mikro di sekitar pertandingan. Pedagang asongan yang kehilangan lapak karena pertandingan digelar tanpa penonton atau di kota yang jauh. Suporter yang harus menempuh ratusan kilometer hanya untuk melihat tim kebanggaan mereka bermain imbang tanpa gairah.
Pertandingan Arema FC melawan Persijap, pada akhirnya, adalah tontonan satir. Kita bersorak untuk gol yang terjadi di lapangan, sementara di balik layar, fondasi industrinya sedang keropos dimakan rayap ketidakprofesionalan. Sampai kapan kita akan menormalisasi ketidaknormalan ini?


