Sport

Euskal Derbia: Saat Sepak Bola Menjadi Agama Kedua di Tanah Basque

Lupakan El Clásico yang penuh racun. Di sini, di sudut utara Spanyol yang basah dan hijau, rivalitas dirayakan dengan pelukan, bukan pagar betis polisi. Ini adalah kisah tentang bagaimana satu bendera mengubah makna sebuah pertandingan selamanya.

CP
Chris PattersonJournalist
11 February 2026 at 11:01 pm3 min read
Euskal Derbia: Saat Sepak Bola Menjadi Agama Kedua di Tanah Basque

Bayangkan sebuah derby panas. Apa yang muncul di benak Anda? Kawat berduri? Polisi anti huru-hara? Tribun yang dipisahkan zona netral untuk mencegah pertumpahan darah? Jika itu definisi Anda tentang rivalitas, Anda belum pernah menginjakkan kaki di San Mamés atau Anoeta saat Euskal Derbia berlangsung.

Saya ingat pertama kali merasakan atmosfer ini di jalanan Calle Licenciado Poza, Bilbao. Hujan rintik-rintik (khas cuaca Basque yang murung namun romantis) tidak menghalangi ribuan manusia berkumpul. Yang aneh? Jersey merah-putih Athletic Club dan biru-putih Real Sociedad berbaur begitu saja. Mereka berbagi pintxos, menenggak gelas kalimotxo, dan tertawa bersama. Tidak ada segregasi. Tidak ada kebencian yang membuat perut mual.

Apakah mereka tidak ingin menang? Tentu saja mereka ingin. Di lapangan, tekel tetap keras, tulang kering tetap dipertaruhkan. Tapi di luar garis kapur, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang mengikat mereka: Euskal Herria. Identitas.

"Ini bukan pertandingan antara dua musuh. Ini adalah pertandingan antara kakak dan adik yang bertengkar memperebutkan remote TV, tapi akan saling membunuh jika ada orang luar yang mengganggu keluarga." — Seorang bartender tua di San Sebastián.

Bayangan Jenderal Franco dan Bendera Terlarang

Untuk memahami mengapa duel ini begitu 'suci', kita harus memutar waktu ke tanggal 5 Desember 1976. Spanyol sedang dalam masa transisi rapuh pasca kematian diktator Francisco Franco. Selama dekade sebelumnya, identitas Basque ditekan habis-habisan; bahasa Euskera dilarang, bendera Ikurriña adalah tiket instan menuju penjara.

Hari itu, di Stadion Atotxa yang lama, kapten Real Sociedad, Inaxio Kortabarria, dan kapten Athletic Bilbao, Jose Angel Iribar, melakukan sesuatu yang membuat aparat keamanan ternganga. Mereka berjalan ke tengah lapangan, bukan membawa panji klub, melainkan membentangkan Ikurriña hijau-merah-putih. Stadion meledak. Itu bukan lagi soal sepak bola. Itu adalah proklamasi eksistensi. (Momen ini, bagi saya, lebih berharga daripada trofi La Liga manapun).

Dua Filosofi, Satu Akar

Meskipun bersaudara, Athletic dan La Real memilih jalan hidup yang sedikit berbeda di era modern. Athletic Club adalah puritan sejati; sebuah anomali di industri sepak bola global yang kapitalis. Mereka bertahan dengan aturan "hanya pemain Basque". Gila? Mungkin. Romantis? Pasti.

Real Sociedad, di sisi lain, sedikit melunak pada 1989 ketika mereka merekrut John Aldridge (mengaakhiri kebijakan khusus Basque mereka), namun jiwa mereka tetap lokal. Akademi Zubieta mereka terus memproduksi talenta kelas dunia yang menjadi tulang punggung Timnas Spanyol, seperti Xabi Alonso hingga Mikel Oyarzabal.

FiturAthletic Club (The Lions)Real Sociedad (Txuri-urdin)
Kebijakan PemainKetat: Hanya lahir atau dididik di BasqueCampuran: Fokus akademi + Bintang asing
StadionSan Mamés (Katedral)Reale Arena (Anoeta)
Gaya Main HistorisFisik, Direct, Intensitas TinggiTeknis, Penguasaan Bola, Elegan

Kenapa Ini Penting Sekarang?

Di era di mana klub sepak bola dimiliki oleh negara teluk atau konsorsium swasta Amerika yang tidak tahu letak kota klub tersebut di peta, Euskal Derbia adalah pengingat yang menampar kita semua. Ia mengingatkan bahwa klub sepak bola seharusnya adalah representasi komunitas, bukan sekadar aset dalam portofolio investasi.

Ketika Iñaki Williams berlari menyisir sayap atau Mikel Oyarzabal mencium lencana klubnya, itu terasa berbeda. Mereka tidak bermain untuk kontrak semata; mereka bermain untuk tetangga mereka, untuk paman mereka yang duduk di tribun, untuk bahasa yang mereka gunakan di rumah.

Jadi, siapa yang menang atau kalah minggu ini? Papan skor akan mencatat angkanya. Tapi pemenang sebenarnya adalah budaya sepak bola itu sendiri, yang membuktikan bahwa Anda bisa menjadi rival tanpa harus menjadi musuh.

CP
Chris PattersonJournalist

Journalist specialising in Sport. Passionate about analysing current trends.