Hantu Morowali dan Ijazah yang Tak Laku: Realitas Pahit TKA vs SDM Kita
Setiap kali video pekerja berhelm asing viral, nasionalisme kita terbakar. Namun, di balik kemarahan itu, tersimpan statistik dingin yang enggan kita akui: sistem pendidikan vokasi kita sedang mencetak pengangguran, bukan tenaga ahli.

Mari kita hentikan sejenak histeria media sosial setiap kali sebuah video grainy memperlihatkan sekumpulan pekerja berbicara bahasa Mandarin di kantin pabrik Sulawesi. Kemarahan itu mudah. Membedah mengapa mereka ada di sana? Itu jauh lebih menyakitkan.
Narasi resmi selalu berbunyi sama: "Ini hanya sementara," atau "Kita butuh transfer teknologi." Sebuah mantra penenang yang terus diulang para pejabat dari Jakarta hingga ke daerah industri.
"Kita tidak sedang dijajah asing. Kita sedang dijajah oleh ketidakmampuan kurikulum pendidikan kita sendiri untuk membaca kebutuhan pasar lima tahun ke depan."
Apakah kita benar-benar percaya bahwa investor mendatangkan ribuan TKA (Tenaga Kerja Asing) hanya karena mereka benci orang lokal? Tidak sesederhana itu. Uang tidak mengenal rasisme; uang mengenal efisiensi. Jika mempekerjakan lulusan SMK lokal lebih menguntungkan dan produktif, mereka akan melakukannya. Masalahnya, seringkali tidak.
Mitos Transfer Teknologi dan Jebakan 'Turnkey'
Ada dua sisi mata uang yang sering luput dari debat publik. Di satu sisi, ada skema investasi turnkey (terima jadi). Investor, terutama dari Tiongkok dalam sektor smelter, seringkali datang satu paket: modal, mesin, dan manusianya. Ini adalah cara mereka memitigasi risiko keterlambatan proyek.
Namun, di sisi lain, mari kita bicara jujur tentang kualitas "barang" yang kita tawarkan. Kita berteriak tentang bonus demografi, tetapi data BPS sering menampar balik: penyumbang pengangguran terbesar justru lulusan SMK. Ironis, bukan? Sekolah yang didesain untuk bekerja, justru paling susah dapat kerja.
| Parameter | Ekspektasi Pemerintah | Realitas Lapangan |
|---|---|---|
| Keahlian TKA | Hanya High-Skill / Manajerial | Sering ditemukan level teknis menengah (karena hambatan bahasa & budaya kerja) |
| Durasi Kontrak | Sementara (1-2 tahun) | Diperpanjang berulang dengan alasan 'proyek belum stabil' |
| Pendampingan (Understudy) | 1 TKA mendidik 1 TKI | Formalitas di atas kertas, transfer ilmu minim karena kendala bahasa |
Sinyal Darurat atau Pukulan Realitas?
Ketika industri mengeluh lulusan kita tidak siap pakai (dan memiliki etos kerja yang dipertanyakan dibanding standar global yang brutal), itu bukan sinyal darurat lagi. Itu sirine yang sudah berbunyi sejak satu dekade lalu, namun kita memilih mematikan suaranya dengan jargon nasionalisme semu.
Masalah TKA bukan sekadar orang asing mengambil "jatah" kita. Ini adalah cermin retak yang memperlihatkan wajah asli SDM nasional. Kita sibuk membangun gedung sekolah, tapi lupa memperbarui apa yang diajarkan di dalamnya. Mesin di pabrik Morowali sudah menggunakan AI dan automasi tingkat tinggi, sementara siswa kita mungkin masih belajar dengan mesin bubut tahun 90-an.
Jadi, apakah TKA itu solusi instan? Ya, bagi investor yang tidak mau pusing. Bagi kita? Kehadiran mereka adalah tamparan keras bahwa ijazah saja tidak cukup untuk bersaing di tanah sendiri.
Journalist specialising in Ekonomi. Passionate about analysing current trends.