Society

Isya dan Notifikasi: Tombol 'Shutdown' Jiwa di Tengah Hingar Bingar

Jam menunjukkan pukul 19.45. Mata Anda perih dihajar cahaya biru, punggung kaku, dan jempol masih saja menggulir layar secara otomatis. Di sinilah 'Isya' hadir, bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan satu-satunya penghalang antara Anda dan kelelahan mental total.

JW
Jennifer WilsonJournalist
17 February 2026 at 02:01 pm3 min read
Isya dan Notifikasi: Tombol 'Shutdown' Jiwa di Tengah Hingar Bingar

Bayangkan ini: Anda baru saja sampai di rumah (atau mungkin masih terjebak di KRL, berdesakan dengan ratusan jiwa lelah lainnya). Tubuh rasanya remuk, tapi pikiran? Pikiran justru sedang berlari maraton. Notifikasi email kantor masih berdenting, grup WhatsApp keluarga ribut soal politik, dan algoritma TikTok terus menyuapi Anda video kucing lucu bercampur berita bencana. Otak Anda kebanjiran dopamin murah.

Lalu, azan Isya berkumandang. Atau setidaknya, notifikasi aplikasi pengingat salat muncul malu-malu di pojok layar, bersaing dengan diskon flash sale.

Inilah paradoks modern yang kita hadapi hari ini. Isya, yang secara harfiah menandai permulaan malam yang gelap, kini harus bertarung melawan terang benderang layar 6 inci yang tidak pernah tidur.

"Kita hidup di zaman di mana malam tidak lagi membawa keheningan, melainkan kebisingan digital yang lebih pekak dari klakson siang hari. Isya adalah protes diam terhadap kekacauan itu."

Sebagai seorang pengamat perilaku sosial (dan sesama korban scrolling tanpa henti), saya melihat pergeseran makna yang drastis. Dulu, Isya adalah penutup. Petani menutup pintu, pedagang menutup toko, lampu dimatikan. Selesai. Hari ditutup, buku amal dilipat.

Hari ini? Isya seringkali hanya menjadi "jeda iklan" sebelum kita lanjut menonton Netflix atau menyelesaikan presentasi untuk besok pagi. Kita melakukan gerakannya, tapi jiwa kita masih tertinggal di kolom komentar Instagram.

Menarik Tuas Rem Darurat

Mengerjakan Isya di 'hari ini'—di tengah gempuran informasi—memerlukan upaya yang jauh lebih besar daripada nenek moyang kita. Kenapa? Karena musuhnya bukan lagi sekadar rasa kantuk fisik, tapi hiper-stimulasi mental. Melakukan takbiratul ihram saat ini adalah tindakan radikal: Anda secara sadar memilih untuk memutuskan koneksi dengan dunia maya (yang menuntut perhatian 24/7) untuk terhubung kembali dengan realitas yang lebih tinggi.

Ada aspek psikologis yang menarik di sini. Dalam psikologi kognitif, otak butuh sinyal transisi untuk berpindah dari mode "bekerja/waspada" ke mode "istirahat/pemulihan". Tanpa transisi ini, insomnia menyerang. Kualitas tidur hancur. Isya berfungsi sebagai mekanisme switch-off alami. Empat rakaat itu, jika dilakukan dengan benar (tuma'ninah, bukan sekadar senam malam), memaksa gelombang otak melambat.

👀 Mengapa Isya sering terasa paling berat di era modern?

Bukan hanya karena fisik lelah. Ini soal Residu Atensi. Istilah ini dipopulerkan oleh Sophie Leroy, merujuk pada sisa perhatian yang tertinggal pada tugas sebelumnya. Saat Anda shalat Isya setelah 3 jam maraton media sosial, otak Anda masih memproses meme, berita buruk, dan email. Isya terasa berat karena Anda harus melawan inersia otak yang sedang melaju kencang.

Jadi, apa yang diubah oleh topik ini? Segalanya tentang bagaimana kita memandang istirahat.

Mungkin malam ini, saat waktu Isya tiba, cobalah pendekatan berbeda. Jangan anggap itu sebagai beban terakhir sebelum tidur. Anggap itu sebagai momen Anda menekan tombol "Close All Tabs" di browser otak Anda. Biarkan dunia berputar tanpa Anda selama beberapa menit. Percayalah, email itu bisa menunggu besok, dan drama selebriti di Twitter tidak akan lari ke mana-mana.

Letakkan ponsel. Ambil wudhu. Air dingin di wajah itu nyata; notifikasi di layar itu maya. Mana yang mau Anda hidupkan malam ini?

JW
Jennifer WilsonJournalist

Journalist specialising in Society. Passionate about analysing current trends.