Society

Marathon Jiwa di Malam Ramadan: Kenapa Kita Rela Berdiri Berjam-jam?

Lupakan sejenak perdebatan jumlah rakaat. Ini adalah tentang fenomena sosiologis di mana jutaan orang secara serentak melawan gravitasi (dan kantuk pasca-buka puasa) demi sebuah terapi massal tanpa biaya.

JW
Jennifer WilsonJournalist
18 February 2026 at 11:01 am2 min read
Marathon Jiwa di Malam Ramadan: Kenapa Kita Rela Berdiri Berjam-jam?

Bayangkan ini: Jam menunjukkan pukul 19.30. Perut Anda baru saja dihajar kombinasi es buah dan gorengan berminyak. Gravitasi terasa dua kali lebih kuat dari biasanya, menarik kelopak mata Anda untuk menutup. Logika biologis memerintahkan tubuh untuk merebah di sofa. Namun, alih-alih menyerah pada kenyamanan horizontal, Anda—dan jutaan orang lainnya—memilih untuk mengenakan sarung, menyemprotkan parfum (terkadang terlalu banyak), dan berjalan menuju masjid.

Selamat datang di fenomena Tarawih.

Sangat mudah untuk mereduksi ritual ini menjadi sekadar angka dan pahala. Namun, jika kita menatap lebih dekat, melampaui gerakan ritmis berdiri-rukuk-sujud, ada mekanisme sosial yang menakjubkan sedang bekerja. Ini bukan sekadar ibadah; ini adalah resiliensi komunal.

Masjid di malam hari berubah menjadi 'ruang ketiga'—bukan rumah, bukan tempat kerja. Sebuah zona netral di mana direktur bank bisa saja bersujud tepat di samping kaki seorang tukang parkir, disatukan oleh nafas yang sama.

Mengapa kita melakukannya? Di era di mana atensi kita terpecah oleh notifikasi setiap 15 detik, Tarawih menawarkan sebuah anomali: fokus kolektif. Ada kekuatan magis dalam keheningan ribuan orang yang mendengarkan satu suara membaca ayat panjang. Ini adalah meditasi massal (tanpa biaya langganan aplikasi mindfulness yang mahal).

Secara psikologis, malam-malam ini berfungsi sebagai detoksifikasi digital paksa. Anda tidak bisa mengecek Instagram saat sedang berdiri dalam barisan rapat, bukan? (Kecuali Anda tipe orang yang menyelundupkan HP di saku baju koko, kami melihat Anda).

👀 Debat Abadi: 8 vs 20 Rakaat?
Ini adalah klasik Ramadan. Tim 8 Rakaat seringkali mengutamakan efisiensi dan kualitas bacaan yang lebih lambat. Tim 20 Rakaat? Mereka adalah pelari maraton spiritual yang mencari durasi dan ketahanan. Namun, poin utamanya bukan pada matematikanya, melainkan pada komitmen untuk hadir. Apakah Anda pulang lebih cepat atau bertahan sampai witir terakhir, Anda tetap bagian dari gelombang manusia yang sama.

Lebih jauh lagi, Tarawih adalah perekat sosial yang sering kita remehkan. Bagi lansia yang kesepian, ini adalah momen interaksi utama mereka. Bagi anak-anak, ini adalah arena bermain (dan berlatih lari zig-zag di antara saf belakang) yang akan menjadi memori inti mereka di masa depan. Kita sering berbicara tentang hilangnya rasa kebersamaan di kota-kota besar, tapi selama 30 malam, tembok individualisme itu runtuh sedikit demi sedikit.

Jadi malam nanti, saat kaki Anda mulai terasa pegal di rakaat ke-enam dan imam membaca surat yang panjangnya tak kunjung usai, ingatlah ini: Anda tidak hanya sedang beribadah. Anda sedang merawat kewarasan kolektif, menjaga ritme kehidupan sosial yang telah bertahan berabad-abad, dan membuktikan bahwa manusia masih mampu hening bersama di tengah dunia yang semakin bising.

JW
Jennifer WilsonJournalist

Journalist specialising in Society. Passionate about analysing current trends.