Society

Puasa: Pemberontakan Terakhir Melawan Budaya Instan

Ketika menahan lapar menjadi satu-satunya tindakan perlawanan yang tersisa di dunia yang menuntut kepuasan seketika. Apakah Anda berpuasa, atau hanya menunda makan?

JW
Jennifer WilsonJournalist
24 February 2026 at 05:05 am3 min read
Puasa: Pemberontakan Terakhir Melawan Budaya Instan

Bayangkan Reza. Jam menunjukkan pukul 03.45 pagi. Di satu tangan, ada segelas air putih hangat; di tangan lain, sebuah persegi panjang bercahaya yang tidak pernah tidur. Jempolnya menggulung layar tanpa henti—video kucing, debat politik tak berujung, resep masakan viral—sementara mulutnya mengunyah roti secara mekanis. Azan Subuh berkumandang. Reza berhenti mengunyah, membaca niat dalam hati, lalu tidur kembali.

Apakah Reza berpuasa? Secara teknis, ya. Dia telah memenuhi rukun puasa: berniat dan menahan diri dari yang membatalkan hingga Maghrib. Tapi mari kita jujur (dan sedikit kejam pada diri sendiri): apakah itu esensi spiritualitas yang kita cari, atau sekadar mode power saving pada tubuh manusia?

Puasa di era digital bukan lagi sekadar menahan lapar; ini adalah latihan radikal dalam menunda gratifikasi di tengah dunia yang berteriak 'Sekarang Juga!'.

Jebakan Checklist Spiritual

Kita hidup di era di mana segalanya diukur dengan efisiensi. Aplikasi produktivitas, pengiriman paket sameday, jodoh via swipe kanan. Mentalitas ini merembes ke dalam ritual kita. Rukun puasa sering kali direduksi menjadi daftar periksa administratif:

  • Sudah niat tadi malam? Cek.
  • Tidak makan dan minum? Cek.
  • Tidak berhubungan suami istri siang hari? Cek.

Selesai. Kewajiban gugur. Tapi ada kekosongan yang menganga di sana. Ketika rukun puasa hanya menjadi batasan fisik, kita kehilangan pertarungan yang sebenarnya: pertarungan melawan autopilot.

Niat: Lebih dari Sekadar Mantra

Mari kita bedah rukun pertama: Niat. Dalam fikih klasik, ini adalah lintasan hati. Tapi di era notifikasi yang membombardir fokus kita setiap 3 detik, 'berniat' adalah tindakan revolusioner.

Berniat berarti mengambil jeda sadar. Itu adalah momen di mana Anda memberi tahu otak Anda yang kecanduan dopamin: "Hei, hari ini kita tidak akan mengikuti impuls hewanimu. Hari ini, aku yang pegang kendali." Tanpa kesadaran ini, niat hanyalah mantra kosong sebelum tidur, dan puasa Anda hanyalah diet intermiten yang dimuliakan.

👀 Mengapa kita merasa lebih 'kosong' meski puasa sah?

Karena kita sering kali mengganti satu konsumsi dengan konsumsi lain. Mulut mungkin terkunci dari makanan (Rukun ke-2), tapi mata dan telinga kita 'memakan' konten digital dengan rakus. Kita menahan lapar perut, tapi membiarkan jiwa kekenyangan sampah informasi. Tanpa 'puasa digital', rasa lapar fisik sering kali gagal menyentuh hati.

Menahan Diri: Seni yang Hilang

Rukun kedua adalah Al-Imsak, atau menahan diri. Dulu, tantangannya adalah rasa lapar fisik karena kelangkaan atau kerja keras. Sekarang? Tantangannya adalah ketersediaan yang melimpah.

Makanan hanya sejauh satu klik di aplikasi ojek online. Hiburan tak terbatas ada di saku. Dalam konteks ini, mematuhi rukun puasa untuk 'tidak memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh' adalah bentuk protes sunyi. Anda sedang berkata 'Tidak' pada sistem ekonomi global yang dirancang untuk membuat Anda terus menerus berkata 'Ya'.

Di sinilah letak spiritualitas modern itu. Saat perut berbunyi di jam 2 siang dan notifikasi Instagram menggoda, rasa tidak nyaman itu bukanlah siksaan. Itu adalah pengingat bahwa Anda masih manusia, bukan mesin pemroses konten. Rasa lapar itu adalah jangkar yang menahan Anda agar tidak hanyut dalam arus deras kedangkalan.

Jadi, besok saat sahur, tataplah nasi di piring Anda, bukan layar ponsel. Rasakan niat itu sebagai deklarasi kemerdekaan diri. Karena di zaman ini, kemampuan untuk merasa lapar—dan berdamai dengannya—mungkin adalah satu-satunya hal yang menyelamatkan kewarasan kita.

JW
Jennifer WilsonJournalist

Journalist specialising in Society. Passionate about analysing current trends.