Sport

Ruang Ganti Korporat: Mengapa Proliga Adalah Mesin Uang Paling 'Underrated' di Asia

Lupakan jadwal pertandingan. Jika Anda berpikir CEO bank pelat merah duduk di tribun VIP GOR hanya karena hobi menonton smash, Anda terlalu naif. Mari saya bisikkan apa yang sebenarnya mereka kejar.

CP
Chris PattersonJournalist
16 January 2026 at 07:01 am3 min read
Ruang Ganti Korporat: Mengapa Proliga Adalah Mesin Uang Paling 'Underrated' di Asia

Mari kita bicara jujur (karena rilis pers tidak akan pernah melakukannya). Saat Anda sibuk menyegarkan halaman pencarian untuk "jadwal Proliga hari ini" atau berdebat siapa middle blocker terbaik musim ini, para eksekutif pemasaran di Jakarta sedang melihat dasbor yang sama sekali berbeda. Mereka tidak melihat skor 25-23. Mereka melihat grafik keterlibatan (engagement) yang melesat vertikal.

Saya baru saja berbincang dengan seorang konsultan branding senior yang menangani salah satu tim papan atas. Katanya sambil tertawa kecil, "Sepak bola itu berisiko tinggi, mahal, dan politis. Voli? Voli itu surga yang aman dengan ROI (Return on Investment) yang gila."

"Di Indonesia, voli adalah anomali. Ia memiliki jangkauan akar rumput sekuat dangdut, tapi kini dikemas dengan kilau K-Pop berkat efek Megawati."

Perang Logo di Jersey: Bukan Sekadar Dekorasi

Pernah perhatikan betapa sesaknya logo di jersey tim Proliga? Itu bukan desain yang buruk; itu adalah peta kekuasaan ekonomi. Bank BUMN, perusahaan energi, hingga instansi intelijen (ya, Anda tahu siapa yang saya maksud) tidak menaruh uang di sana untuk amal.

Voli di Indonesia unik. Ia adalah olahraga rakyat—main di lapangan tanah (tarkam) di desa—namun elit di panggung profesional. Bagi brand, ini adalah akses langsung ke demografi yang sulit ditembus: kelas menengah-bawah yang loyal, yang mungkin tidak peduli dengan fluktuasi saham tapi pasti akan membeli kartu perdana atau membuka rekening bank jika idola mereka yang memintanya.

👀 [Insider Info] Mengapa Politisi Gemar Membeli Klub Voli?

Ini rahasia umum di lingkaran dalam: Biaya operasional klub voli profesional hanya sepersekian dari klub sepak bola Liga 1. Namun, eksposurnya? Masif. Memiliki klub voli yang juara (seperti LavAni milik Pak SBY) memberikan soft power yang luar biasa. Citra "pembina pemuda" dan "sportif" jauh lebih mudah dibangun di sini daripada di stadion sepak bola yang rawan kerusuhan. Ini adalah kampanye politik termurah dan paling efektif yang bisa dibeli uang.

Algoritma Smash: Data Adalah MVP Baru

Kita masuk ke wilayah yang lebih teknis. Transformasi terbesar bukan terjadi di lapangan, tapi di server. Fenomena Megawati Hangestri di Korea Selatan (Red Sparks) telah membuka mata para pemangku kepentingan di Indonesia. Netizen kita adalah senjata.

Dulu, pemain direkrut murni karena statistik teknis (blok per set, persentase serangan). Sekarang? Jumlah pengikut Instagram masuk dalam klausul negosiasi. Saya melihat sendiri draf kontrak di mana bonus kinerja dikaitkan dengan trending topic di Twitter (sekarang X). Gila? Tidak, itu bisnis.

Klub-klub sekarang berlomba bukan hanya untuk juara Proliga, tapi untuk menjadi 'raja konten'. Livestream latihan, video TikTok di balik layar, drama antar pemain; ini semua dimonetisasi. Voli telah berubah menjadi reality show berbasis atletik.

Apa yang Jarang Dikatakan?

Di balik gemerlap ini, ada pergeseran yang luput dari perhatian. Voli sedang mengalami gentrifikasi digital. Tiket menjadi lebih mahal, hak siar diperebutkan dengan angka fantastis, dan nuansa 'rakyat' perlahan digantikan oleh eksklusivitas.

Apakah ini buruk? Tergantung posisi Anda. Jika Anda investor, ini masa keemasan. Jika Anda penonton setia dari era tarkam, mungkin Anda mulai merasa jarak itu melebar. Tapi satu hal yang pasti: selama notifikasi di ponsel Anda masih berbunyi untuk setiap spike keras, mesin uang ini tidak akan berhenti berputar.

CP
Chris PattersonJournalist

Journalist specialising in Sport. Passionate about analysing current trends.