Society

Tarawih: Anarki Tenang Melawan Tirani Algoritma

Bayangkan sebuah teknologi kuno yang memaksamu berhenti scrolling, berdiri tegak, dan menyinkronkan napas dengan orang asing. Bukan, ini bukan retreat yoga eksklusif di Bali. Ini adalah perlawanan bawah sadar kita terhadap kebisingan digital.

JW
Jennifer WilsonJournalist
23 February 2026 at 02:01 pm3 min read
Tarawih: Anarki Tenang Melawan Tirani Algoritma

Mari kita mulai dengan sebuah adegan yang mungkin terlalu akrab bagi Anda. Sebut saja namanya Reza. Seorang budak korporat di kawasan segitiga emas Jakarta, jempolnya memiliki memori otot untuk melakukan refresh feed Instagram setiap 45 detik. Otaknya adalah jalan tol informasi yang macet parah; penuh klakson berita politik, drama selebriti, dan grafik saham yang memerah.

Tapi malam itu, ada yang aneh. Pukul 19.30, Reza meletakkan 'nyawa keduanya' (baca: smartphone) di saku celana paling dalam. Dia berdiri dalam barisan, bahu menyentuh bahu orang asing di sebelahnya. Tidak ada notifikasi. Tidak ada urgency. Hanya suara imam yang menggema dan ritme gerakan yang monoton.

Tanpa sadar, Reza—dan jutaan orang lainnya—sedang melakukan tindakan pemberontakan paling radikal di abad ke-21: memilih untuk tidak terhubung.

“Di era di mana atensi adalah mata uang paling berharga yang diperebutkan Silicon Valley, sholat Tarawih adalah brankas besi yang kita kunci dari dalam.”

Jeda di Antara Deru Napas

Kita sering terjebak memandang Tarawih sekadar sebagai ritual tahunan untuk mengejar pahala (atau sekadar menggugurkan kewajiban sosial agar tidak dicap 'tidak religius' oleh tetangga). Namun, cobalah geser lensa pandang kita sedikit. Lihatlah struktur sholat ini.

Gerakan yang berulang. Berdiri, ruku, sujud. Lagi dan lagi. Bagi otak modern yang kecanduan dopamin instan dari video durasi 15 detik, ini menyiksa. Tapi justru di situlah kuncinya. Kebosanan itu adalah obatnya. Repetisi itu memaksa otak untuk turun gigi, dari mode beta yang waspada penuh ke mode alpha yang meditatif.

Dan kemudian ada doa di sela-sela salam. Doa kamilin atau jeda singkat di antara rakaat. Ini bukan sekadar komat-kamit hafalan. Ini adalah 'ruang napas'. Di momen itu, kita diajak untuk berkontemplasi: Apakah kesibukan saya hari ini nyata, atau hanya ilusi piksel?

👀 Mengapa 'rasa bosan' saat Tarawih itu sebenarnya penting?

Neuroscience modern menunjukkan bahwa otak kita jarang sekali masuk ke mode Default Mode Network (DMN) saat kita terus-menerus mengonsumsi informasi. DMN adalah kondisi saat otak melamun atau beristirahat, yang krusial untuk kreativitas dan pemrosesan emosi. Rasa bosan atau repetisi saat Tarawih 'memaksa' otak melepaskan diri dari stimulasi eksternal, memberikan kesempatan langka bagi mental kita untuk menyusun ulang 'file-file' yang berantakan.

Kolektivisme di Era Individualis

Ada aspek lain yang jarang kita bicarakan: suara gemuruh 'Aamiin'. Di dunia digital, kita terisolasi dalam gelembung algoritma kita sendiri. Feed saya tidak sama dengan feed Anda. Kita semakin terkotak-kotak.

Tarawih menghancurkan dinding itu. Selama satu jam, semua orang—dari CEO hingga pedagang asongan—mendengarkan 'playlist' yang sama, melakukan gerakan yang sama, dan mengucapkan doa yang sama secara serentak. Ini adalah validasi fisik bahwa kita masih bagian dari organisme sosial yang nyata, bukan sekadar avatar di Metaverse.

Doa yang dipanjatkan bukan lagi permintaan pribadi yang egois, melainkan gelombang harapan kolektif. (Sesuatu yang ironisnya sering hilang justru saat kita merasa paling terhubung via media sosial).

Lebih dari Sekadar Ritual

Jadi, nanti malam, saat Anda merasa berat melangkahkan kaki ke masjid karena series Netflix terbaru sedang memanggil-manggil, ingatlah ini: Anda tidak pergi ke sana hanya untuk ritual.

Anda pergi ke sana untuk menyelamatkan kewarasan Anda. Anda pergi untuk mengambil kembali kendali atas fokus Anda yang telah dicuri oleh notifikasi WhatsApp. Doa dan sujud itu adalah jeda kontemplatif yang mewah, sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli, bahkan dengan langganan premium aplikasi meditasi sekalipun.

JW
Jennifer WilsonJournalist

Journalist specialising in Society. Passionate about analysing current trends.