Society

Adzan Zuhur: Sabotase Suci Melawan Tirani 'Hustle Culture'

Jam 11:59 siang adalah medan perang. Deadline menjerit, Slack meledak. Lalu, suara itu membelah udara. Bukan sekadar panggilan ibadah, tapi sebuah intervensi radikal terhadap kapitalisme tubuh kita.

JC
Jennifer ClarkJournalist
February 23, 2026 at 08:01 AM3 min read
Adzan Zuhur: Sabotase Suci Melawan Tirani 'Hustle Culture'

Bayangkan ini: Anda berada di lantai 25 sebuah menara kaca di kawasan bisnis. Mata Anda kering karena menatap layar sejak pukul 8 pagi, punggung Anda menjerit minta tolong, dan otak Anda sedang mencoba memproses tiga krisis berbeda sekaligus. Ini adalah puncak hari kerja. Matahari berada tepat di atas kepala, membakar aspal dan ambisi kita.

Lalu, suara itu terdengar. Sayup-sayup pada awalnya, mungkin dari musala kecil di basement parkir atau masjid yang terselip di gang sempit di balik gedung pencakar langit. Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Bagi sebagian orang, ini hanyalah penanda waktu makan siang. Tapi mari kita jujur (dan sedikit filosofis), Adzan Zuhur adalah anomali yang indah. Di dunia yang terobsesi dengan kecepatan, di mana 'istirahat' sering dianggap sebagai dosa terhadap dewa produktivitas, panggilan ini bertindak sebagai mekanisme circuit breaker otomatis. Sakelar pemutus arus.

"Di tengah kebisingan algoritma yang menuntut atensi konstan, Adzan Zuhur adalah satu-satunya notifikasi yang meminta Anda untuk 'disconnect' demi koneksi yang lebih tinggi."

Mengapa Zuhur begitu spesifik? Subuh memiliki ketenangannya sendiri, Maghrib menandai akhir hari. Tapi Zuhur? Ia datang tepat ketika kita sedang sibuk-sibuknya mengejar dunia. Ia datang saat ego profesional kita sedang mekar sepenuhnya.

Secara psikologis, ini jenius. Jauh sebelum Francesco Cirillo menemukan Pomodoro Technique di akhir tahun 80-an (bekerja 25 menit, istirahat 5 menit), ritme sirkadian spiritual ini sudah menetapkan standar: Anda tidak dirancang untuk berlari maraton mental tanpa henti. Anda butuh 'pit stop'.

Namun, ada sesuatu yang ironis terjadi belakangan ini. Perhatikan rekan kerja Anda—atau bahkan diri Anda sendiri. Saat suara itu berkumandang, berapa banyak yang benar-benar berhenti? Atau kita hanya menggeser jenis layar yang kita tatap? Dari Excel ke Instagram? Itu bukan istirahat; itu hanya pengalihan distraksi.

👀 Apakah Jeda Ini Membunuh Momentum Kerja?
Justru sebaliknya. Riset neurosains modern menunjukkan bahwa Default Mode Network (DMN) otak kita aktif saat kita melamun atau beristirahat sejenak dari fokus tajam. Inilah saat ide-ide kreatif muncul. Memaksa otak bekerja tanpa jeda Zuhur (atau jeda makan siang yang layak) ibarat mengendarai mobil dengan gigi satu di jalan tol: mesin meraung kencang, tapi Anda akan terbakar sebelum sampai tujuan.

Adzan Zuhur menawarkan proposisi radikal: Bahwa pekerjaan Anda, sepenting apa pun presentasi triwulanan itu, bukanlah pusat semesta. (Maaf jika ini melukai ego manajerial Anda). Ada jeda ontologis yang diperlukan. Meletakkan dahi ke lantai bukan hanya gerakan ritual; itu adalah posisi kerendahan hati fisik yang memaksa aliran darah ke otak, secara harfiah menyegarkan perspektif.

Kita sering bicara soal work-life balance sebagai konsep abstrak yang harus dicapai "nanti" saat liburan. Padahal, keseimbangan itu ditawarkan setiap hari, tepat di tengah hari, gratis. Pertanyaannya bukan apakah kita mendengar panggilannya, tapi apakah kita cukup berani untuk benar-benar berhenti?

JC
Jennifer ClarkJournalist

Journalist specializing in Society. Passionate about analyzing current trends.