Tech

Algoritma Subuh: Siapa yang Sebenarnya Membangunkan Anda?

Anda pikir rotasi bumi murni mendikte jadwal salat Anda? Pikirkan lagi. Ada perang senyap di dalam kode aplikasi ponsel Anda, memutuskan secara sepihak kapan malam berakhir dan fajar benar-benar menyingsing.

MC
Mike ChenJournalist
February 26, 2026 at 11:02 PM2 min read
Algoritma Subuh: Siapa yang Sebenarnya Membangunkan Anda?

Pernahkah Anda menyadari bahwa ponsel pintar Anda sering kali lebih dulu berkumandang daripada masjid di ujung jalan? (Bahkan terkadang selisihnya bisa mencapai dua menit penuh). Sebagian besar dari kita hanya menerima notifikasi layar kunci itu sebagai kebenaran mutlak. Namun, di balik antarmuka yang bersih dari aplikasi pengingat salat favorit Anda, terdapat labirin komputasi yang tidak banyak diketahui publik.

Sebagai seseorang yang memiliki akses ke belakang panggung infrastruktur teknologi ini, saya bisa memberi tahu Anda satu rahasia: waktu 'Adzan Subuh hari ini' yang Anda ketikkan di kolom pencarian tidak murni ditentukan oleh alam. Momen sakral tersebut didikte oleh serangkaian Application Programming Interfaces (API) dan pilihan default yang ditanamkan oleh para pengembang perangkat lunak.

👀 [Rahasia Sudut Fajar: Mengapa Aplikasi Anda Sering 'Salah']
Sebagian besar aplikasi global menggunakan perhitungan Otoritas Mesir atau Liga Dunia Islam secara default, yang menetapkan sudut matahari pada 18 hingga 19,5 derajat. Namun, sistem lokal sering berpatokan pada sudut 20 derajat (meski angka ini terus diperdebatkan). Jika Anda tidak masuk ke pengaturan lanjutan aplikasi dan mengubahnya secara manual, Anda secara harfiah beribadah di bawah langit komputasi yang berbeda dengan tetangga Anda.

Kapan terakhir kali Anda merepotkan diri menyetel parameter lintang dan bujur? Tepat sekali. Anda menyerahkannya mentah-mentah pada fitur geolokasi. Di sinilah letak ironi spiritualitas kita. Kita secara sukarela mengalihkan tanggung jawab observasi langit—sebuah praktik kuno yang penuh keintiman dengan alam semesta—kepada satelit GPS dan cache data lokal.

Apa yang sebenarnya diubah oleh pergeseran ini? Ini bukan sekadar persoalan teknis belaka. Selisih satu atau dua menit akibat pembulatan matematis oleh server pihak ketiga bisa menjadi krusial, terutama saat batas imsak bulan puasa. Apakah para programmer menyadari beban teologis dari kode mereka? Segelintir orang mungkin iya, namun mayoritas hanya menyalin pustaka kode (library) sumber terbuka dari GitHub tanpa memahami konteks falakiyah di baliknya.

'Kita tidak lagi melihat ke ufuk timur untuk mencari garis putih fajar shadiq; kita menatap layar OLED, menanti server merespons dengan kode status 200 OK.'

Inilah realitas yang jarang dibahas di forum-forum pengajian: otoritas penentuan waktu secara perlahan, namun pasti, bergeser dari para ulama ahli hisab ke para software engineer. Bahkan, pembaruan sistem operasi ponsel Anda dapat secara sewenang-wenang menunda notifikasi adzan demi menghemat baterai perangkat (melalui protokol Doze Mode).

Besok pagi saat alarm Anda memecah keheningan, tanyakan pada diri sendiri. Apakah Anda benar-benar dibangunkan oleh ritme tata surya, atau oleh eksekusi baris kode otomatis dari data center yang berjarak ribuan kilometer jauhnya?

MC
Mike ChenJournalist

Journalist specializing in Tech. Passionate about analyzing current trends.