Sport

Atletico Madrid: Krisis Identitas atau Evolusi Jenius Simeone?

Diego Simeone telah menghabiskan lebih dari satu dekade membangun benteng, namun kini ia mencoba memasang jendela kaca di dinding betonnya. Apakah 'Los Rojiblancos' benar-benar beradaptasi, atau mereka hanya tersesat di antara dompet tebal dan mentalitas underdog?

DM
David MillerJournalist
February 15, 2026 at 05:01 PM3 min read
Atletico Madrid: Krisis Identitas atau Evolusi Jenius Simeone?

Mari kita hentikan narasi romantis sejenak. Anda tahu, cerita tentang Atletico Madrid sebagai "Pekerja Keras" yang melawan tirani duopoli Real Madrid dan Barcelona? Cerita itu sudah kadaluwarsa. Ketika sebuah klub menghabiskan ratusan juta Euro di bursa transfer (halo, Julian Alvarez), mereka bukan lagi pemberontak miskin. Mereka adalah aristokrat yang berpura-pura memakai baju buruh.

Musim ini, La Liga bukan sekadar panggung kompetisi; ini adalah badai. Real Madrid dengan galaksi bintangnya dan Barcelona yang entah bagaimana selalu menemukan anak ajaib baru dari La Masia. Di tengah kekacauan ini, Diego Simeone berdiri di pinggir lapangan Metropolitano, mengenakan setelan hitam khasnya, mencoba meyakinkan kita bahwa timnya sedang "beradaptasi".

Tapi, benarkah demikian? Atau ini hanya kebingungan taktis yang disamarkan sebagai evolusi?

Paradoks Anggaran dan Taktik

Anda tidak membeli Ferrari untuk menggunakannya membajak sawah. Namun, terkadang itulah yang terlihat dilakukan Simeone dengan skuad mahalnya. Manajemen mendatangkan bakat menyerang kelas dunia—pemain yang butuh bola, butuh ruang, dan butuh kebebasan. Apa yang mereka dapatkan? Instruksi untuk turun ke belakang garis tengah saat unggul 1-0.

Mari kita lihat data dingin yang sering diabaikan oleh para pemuja "Cholismo". Ada pergeseran fundamental yang mengkhawatirkan antara era emas Simeone dan eksperimen hibrida saat ini.

ParameterAtletico Era Godin (2013-2016)Atletico Era Modern (2023-Sekarang)
Identitas UtamaPertahanan Besi (1-0 adalah seni)Hibrida (Ingin menyerang, takut kalah)
Tipe BelanjaPencuri Bola & PetarungPlaymaker & Striker Mahal
KonsistensiBrutalVolatil (Sering kehilangan poin dari tim kecil)

Sindrom Setengah Hati

Masalah terbesar Atletico di tengah badai La Liga ini bukanlah kualitas pemain. Le Normand didatangkan untuk menambal pertahanan, Gallagher untuk energi (semacam reinkarnasi Gabi dengan paspor Inggris). Tapi masalahnya ada di kepala. Simeone tampaknya mengalami konflik batin: setengah dirinya ingin bermain sepak bola modern yang cair—seperti yang dituntut oleh harga tiket dan pemegang hak siar TV—sementara setengah lainnya masih ingin berteriak agar semua orang mundur ke kotak penalti.

Hasilnya? Sebuah tim yang sering terlihat ragu-ragu. Mereka mendominasi selama 60 menit, lalu panik di 30 menit terakhir. Di La Liga yang semakin teknis, keraguan adalah hukuman mati. Tim-tim papan tengah seperti Girona atau Real Sociedad tidak lagi takut datang ke Madrid; mereka mencium bau ketakutan itu.

"Simeone sedang mencoba mengajarkan trik baru pada anjing tua, tapi masalahnya, anjing itu adalah dirinya sendiri. Dia terjebak antara nostalgia pragmatisme dan tuntutan estetika modern."

Apa yang Jarang Dikatakan Orang?

Semua orang membicarakan taktik, tapi jarang yang membicarakan beban ekspektasi finansial. Atletico Madrid tidak bisa lagi bersembunyi di balik narasi "tim rakyat". Ketika Anda memiliki salah satu stadion tercanggih di Eropa dan gaji pemain yang menyaingi raksasa Premier League, finis di posisi ketiga bukan lagi prestasi; itu adalah persyaratan minimum untuk tidak bangkrut.

Adaptasi yang sebenarnya bukanlah soal formasi 5-3-2 atau 4-4-2. Adaptasi yang dibutuhkan adalah penerimaan bahwa mereka sekarang adalah raksasa. Dan raksasa tidak boleh bermain dengan mentalitas korban. Jika Simeone tidak bisa mengubah mentalitas ini—bukan taktiknya, tapi jiwanya—badai La Liga tidak akan hanya membasahi mereka. Itu akan menenggelamkan mereka.

DM
David MillerJournalist

Journalist specializing in Sport. Passionate about analyzing current trends.