Tech

Bologna: Laboratorium Pengawasan Digital yang Bersembunyi di Balik Tortellini

Sementara turis sibuk memotret piring pasta mereka, Bologna diam-diam berubah menjadi eksperimen urban paling ambisius (dan meresahkan) di Eropa. Di balik dinding bata merah abad pertengahan, sebuah kembaran digital sedang dibangun.

MC
Mike ChenJournalist
January 15, 2026 at 05:31 PM3 min read
Bologna: Laboratorium Pengawasan Digital yang Bersembunyi di Balik Tortellini

Anda mungkin pergi ke Bologna untuk saus ragù-nya yang legendaris atau untuk tersesat di antara portico yang tak berujung. Itu wajar. Itu yang mereka inginkan. Namun, jika Anda berhenti mengunyah sebentar dan melihat lebih dekat, ada dengungan frekuensi rendah yang tidak berasal dari mesin kopi espresso.

Bologna, "La Dotta, La Grassa, La Rossa" (Si Terpelajar, Si Gemuk, Si Merah), sedang menulis ulang julukannya menjadi "Si Data". Tanpa banyak gembar-gembor, kota ini telah menjadi cawan petri raksasa untuk masa depan urbanisme Eropa. Dan terus terang? Skalanya menakutkan.

“Kami tidak hanya membangun infrastruktur; kami sedang membangun sistem saraf digital untuk seluruh benua.”

Kalimat semacam itu sering terdengar di koridor balai kota, diucapkan dengan antusiasme teknokratis yang membuat bulu kuduk berdiri. Pusat dari transformasi ini bukanlah alun-alun Piazza Maggiore, melainkan Tecnopolo Manifattura. Bekas pabrik tembakau ini sekarang menampung Leonardo, superkomputer terkuat keempat di dunia.

Dompet Warga atau Tali Kekang Digital?

Di sinilah skeptisisme saya—dan mungkin seharusnya Anda juga—mulai menyala. Bologna meluncurkan proyek yang disebut "Smart Citizen Wallet". Premisnya terdengar manis, hampir seperti permainan: pilah sampah Anda dengan benar, gunakan transportasi umum, dan Anda akan mendapatkan poin. Poin-poin ini bisa ditukar dengan diskon atau tiket museum.

Terdengar akrab? Bagi saya, ini berbau seperti episode Black Mirror yang ditulis ulang oleh birokrat Italia.

👀 Apakah ini Sistem Kredit Sosial ala China?
Secara teknis? Belum. Pemerintah kota bersikeras bahwa ini adalah sistem sukarela (opt-in) dan hanya berfokus pada penghargaan (reward), bukan hukuman. Tidak ada yang akan melarang Anda naik kereta karena Anda lupa memilah plastik. Namun, kritikus berpendapat bahwa garis batasnya tipis. Normalisasi pelacakan perilaku "baik" adalah langkah pertama menuju stigmatisasi perilaku "buruk". Ketika data menjadi mata uang, privasi adalah biaya transaksinya.

Kembaran Digital: Kota Hantu dalam Server

Ambisi sebenarnya jauh lebih gila daripada sekadar aplikasi poin. Bologna sedang membangun "Digital Twin"—replika virtual lengkap dari kota fisik. Setiap bus, setiap lampu lalu lintas, setiap variabel polusi udara, semuanya disimulasikan secara real-time.

Mereka menyebutnya efisiensi. Mereka mengatakan ini memungkinkan mereka memprediksi banjir atau kemacetan sebelum terjadi. (Hebat, jika berhasil). Tapi ini juga berarti setiap inci ruang publik sedang diubah menjadi titik data.

Bologna TradisionalBologna Digital (2026+)
Diatur oleh interaksi sosial di PiazzaDiatur oleh algoritma prediktif Leonardo
Identitas berbasis komunitas & sejarahIdentitas berbasis metrik perilaku (Wallet)
Masalah diselesaikan saat terjadiMasalah "dicegah" sebelum bermanifestasi

Siapa yang Memegang Kendali?

Eropa sedang panik mencari kedaulatan digital untuk melepaskan diri dari cengkeraman Silicon Valley (AS) dan Shenzhen (China). Bologna adalah ujung tombak upaya ini. Dengan menempatkan 80% kapasitas komputasi ilmiah Italia di satu tempat, taruhannya sangat besar.

Apakah ini masa depan yang cerah di mana kota "berpikir" untuk kita? Mungkin. Atau mungkin kita sedang melihat lahirnya feodalisme teknokratis baru, di mana hak untuk hidup di kota bergantung pada seberapa patuh data Anda terhadap model yang diinginkan algoritma. Nikmati tortellini Anda selagi masih panas, dan selagi Anda tidak perlu memindai kode QR untuk membuktikan bahwa Anda pantas memakannya.

MC
Mike ChenJournalist

Journalist specializing in Tech. Passionate about analyzing current trends.