Society

Bursa Saham Duka: Mengaudit Cuan di Balik Tagar #LulaLahfah

Kematian bukan lagi akhir, melainkan awal dari siklus monetisasi baru. Ketika Lula Lahfah wafat, algoritma tidak menangis; ia justru membuka 'pasar saham' emosi di mana air mata dikonversi menjadi CPM.

JC
Jennifer ClarkJournalist
January 25, 2026 at 05:01 AM3 min read
Bursa Saham Duka: Mengaudit Cuan di Balik Tagar #LulaLahfah

Jumat malam, 23 Januari 2026. Sementara tubuh Lula Lahfah dibawa dari apartemen Dharmawangsa ke RS Fatmawati, sebuah mesin raksasa di Silicon Valley mulai bergemuruh. Bukan, ini bukan tentang belasungkawa. Ini tentang sinyal. Bagi algoritma rekomendasi TikTok dan X, kematian seorang selebgram dengan jutaan pengikut bukanlah tragedi kemanusiaan; itu adalah spike data yang lezat. Sebuah peluang arbitrase perhatian.

Mari kita bersikap dingin sejenak (seperti mesin-mesin itu). Dalam 24 jam terakhir, kita tidak sedang menyaksikan duka cita kolektif. Kita sedang melihat industrialisasi air mata. Apakah Anda benar-benar sedih, atau Anda hanya takut tertinggal dari percakapan (FOMO) yang kebetulan bertema kematian?

"Di era ekonomi atensi, 'Rest in Peace' hanyalah kata kunci SEO dengan Cost Per Click (CPC) yang sangat tinggi."

Spekulasi sebagai Komoditas Utama

Perhatikan pola yang terjadi antara pukul 19.00 hingga 22.00 WIB malam itu. Sebelum rilis resmi keluar, pasar spekulasi dibuka. Narasi "OD" (Overdosis) diperdagangkan dengan valuasi tinggi di Twitter, meski faktanya nol besar. Mengapa? Karena kebenaran itu membosankan. Kebenaran tidak mengundang share. Spekulasi liar—bahwa ada skandal, obat-obatan, atau drama tersembunyi—adalah bahan bakar roket bagi engagement.

Saya menyebutnya 'Vulture Analytics' (Analitik Burung Bangkai). Kreator konten dadakan membedah video terakhir almarhumah, mencari 'tanda-tanda' yang tidak ada, hanya untuk menahan durasi tontonan Anda. Mereka tidak peduli pada Lula; mereka peduli pada retention rate.

Jenis KontenRata-rata EngagementLonjakan Pasca-Tragedi
Lifestyle/Vlog (Normal)3-5%-
Berita Duka (Fakta)15-20%4x Lipat
Teori Konspirasi/Hoax45-60%12x Lipat (Viral Zone)

Ilusi Empati Digital

Apakah Anda menekan tombol 'Like' pada postingan duka cita Reza Arap karena Anda peduli pada perasaannya, atau karena itu adalah refleks otot jari jempol Anda saat melihat gambar hitam-putih? (Jujurlah).

Platform media sosial dirancang untuk meratakan semua emosi menjadi satu metrik. Video kucing lucu, tutorial memasak, dan berita kematian Lula Lahfah bersaing di feed yang sama. Akibatnya, otak kita menjadi tumpul. Kita mengonsumsi duka seperti kita mengonsumsi hiburan. 'Sirkus' yang saya maksud di judul bukan tentang perilaku almarhumah, melainkan perilaku kita yang menjadikan kolom komentar sebagai buku tamu pemakaman yang performatif.

Dan ketika gerakan "Death is Not Content" mulai viral sebagai respons balik, ironisnya, itu pun menjadi konten. Kritik terhadap monetisasi duka... juga dimonetisasi. Lingkaran setan yang sempurna.

👀 Mengapa kita terobsesi dengan kematian selebriti?
Secara psikologis, ini disebut Parasocial Grieving. Otak kita gagal membedakan antara teman nyata dan wajah yang kita lihat di layar setiap hari selama bertahun-tahun. Ketika Lula pergi, rasanya personal, padahal transaksional. Algoritma mengeksploitasi celah evolusi ini untuk menahan kita di dalam aplikasi lebih lama.

Jadi, lain kali Anda melihat "Breaking News" tentang kematian seorang figur publik, tanyakan pada diri sendiri: Siapa yang paling diuntungkan dari air mata virtual ini? Keluarga yang ditinggalkan, atau pemegang saham platform yang grafik trafiknya sedang hijau royo-royo?

JC
Jennifer ClarkJournalist

Journalist specializing in Society. Passionate about analyzing current trends.