Sport

Como vs Milan: Saat Sepak Bola Menjadi Showroom Mewah Konglomerat

Lupakan skor akhir. Pertarungan sesungguhnya terjadi antara mesin korporat Milan dan eksperimen 'boutique football' milik Como. Apakah ini masa depan Serie A atau sekadar mainan para miliarder?

DM
David MillerJournalist
January 15, 2026 at 07:31 PM3 min read
Como vs Milan: Saat Sepak Bola Menjadi Showroom Mewah Konglomerat

Mari kita hentikan omong kosong tentang "dongeng" itu sejenak. Ketika Como 1907 naik ke Serie A untuk menantang AC Milan, narasi yang dijual media adalah kisah Cinderella. Tim kecil dari danau yang indah melawan raksasa industri dari kota mode. Romantis? Tentu. Akurat? Sama sekali tidak.

Jika Anda melihat lebih dekat (dan mematikan filter Instagram yang estetik itu), Derby Lombardy ini bukanlah pertarungan David melawan Goliath. Ini adalah bentrokan dua model bisnis kapitalisme modern: Old Money Corporate melawan New Luxury Branding. Milan dengan sejarah berdebu yang mencoba dimonetisasi ulang oleh RedBird Capital, melawan Como yang didukung dompet tak terbatas keluarga Hartono.

Stadion atau Catwalk?

AC Milan, dengan segala hormat pada tujuh gelar Liga Champions mereka, sedang terjebak dalam birokrasi kuno Italia. San Siro adalah monumen agung yang runtuh, dan upaya mereka membangun stadion baru terasa seperti sinetron tanpa akhir. Mereka menjual tradisi.

Di sisi lain, Como tidak menjual sepak bola; mereka menjual gaya hidup. Stadion Sinigaglia mungkin bobrok, tapi pemandangannya menghadap danau. Itu nilai jualnya. Strategi mereka bukan memenangkan Scudetto tahun depan, melainkan mengubah klub menjadi merek fashion yang kebetulan bermain bola setiap hari Minggu.

"Sepak bola modern bukan lagi tentang siapa yang mencetak gol terbanyak, tapi siapa yang bisa menjual jersey seharga 100 Euro kepada turis yang bahkan tidak tahu aturan offside."

Pertanyaannya: Apakah model Como berkelanjutan? Atau ini hanya mainan mahal yang akan bosan dimainkan ketika algoritma media sosial berubah?

Data Bicara: Dua Wajah Kapitalisme Calcio

Jangan tertipu oleh ukuran stadion. Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di balik layar manajemen kedua klub ini.

MetrikAC Milan (RedBird)Como 1907 (Djarum Group)
Filosofi PemilikMoneyball, Efisiensi Data, Aset GlobalEntertainment, Pariwisata Mewah, Eksklusivitas
Strategi RekrutmenPemain muda, nilai jual kembali tinggi (Algoritma)Nama besar veteran (Varane, Roberto), Koneksi Selebriti
Target PasarBasis fans global tradisionalHigh-net-worth individuals & Turis Danau Como

Jebakan Narasi "Milik Indonesia"

Bagi pembaca di Jakarta atau Surabaya, mudah untuk terjebak dalam nasionalisme semu. "Klub milik orang Indonesia!" teriak kita. Tapi mari bersikap realistis: Hartono bersaudara tidak membeli Como untuk menaturalisasi pemain Timnas (setidaknya bukan itu tujuan utamanya). Mereka membeli Como karena Danau Como adalah salah satu real estat paling bernilai di planet ini.

Klub ini adalah pintu gerbang. Cesc Fabregas bukan hanya pelatih; dia adalah Chief Marketing Officer yang menyamar. Thierry Henry bukan sekadar investor minoritas; dia adalah validasi merek.

Milan, di sisi lain, sedang berjuang menjaga relevansi di era di mana anak-anak Gen Z lebih suka menonton highlight 30 detik di TikTok daripada pertandingan penuh 90 menit. Mereka butuh kemenangan di lapangan untuk menjaga neraca keuangan. Como? Mereka bisa kalah 0-3, tapi selama George Clooney terlihat di tribun VIP dan merchandise ludes terjual, bisnis tetap berjalan lancar.

Pada akhirnya, Derby Lombardy ini adalah cermin masa depan sepak bola. Di satu sisi, korporasi olahraga yang dingin dan terhitung. Di sisi lain, vanity project yang dikemas sebagai revolusi budaya. Siapa yang menang? Tentu saja bukan fans lokal yang harga tiketnya melambung tinggi demi mengakomodasi turis.

DM
David MillerJournalist

Journalist specializing in Sport. Passionate about analyzing current trends.