Sport

Di Balik Bayang-Bayang Ronaldo: Laga Damac vs Al-Taawoun dan Pertaruhan Jiwa Saudi

Lupakan sejenak lampu sorot Riyadh. Di Khamis Mushait, jauh dari gemerlap kontrak miliaran dolar, sebuah pertempuran yang lebih jujur sedang berlangsung. Ini bukan tentang siapa yang memiliki pengikut Instagram terbanyak, melainkan tentang siapa yang mewakili detak jantung komunitas lokal.

DM
David MillerJournalist
February 12, 2026 at 05:01 PM3 min read
Di Balik Bayang-Bayang Ronaldo: Laga Damac vs Al-Taawoun dan Pertaruhan Jiwa Saudi

Bayangkan Anda berada di Khamis Mushait. Udaranya lebih tipis di sini, dataran tinggi di barat daya Arab Saudi, jauh dari kelembapan mencekik Jeddah atau kemacetan Riyadh yang mulai menyerupai Los Angeles. Di tribun stadion Pangeran Sultan bin Abdul Aziz, Anda tidak akan melihat turis yang mengenakan jersey 'CR7' yang baru dibeli di bandara. Yang ada hanyalah pria-pria lokal dengan thobe putih yang digulung, berteriak parau, mengunyah biji bunga matahari, dan menuntut darah serta keringat.

Inilah panggung pertemuan Damac F.C. dan Al-Taawoun.

Bagi dunia luar, Liga Pro Saudi (SPL) adalah sirkus bertabur bintang yang didanai oleh Public Investment Fund (PIF). Namun, jika kita ingin jujur (dan sedikit romantis), jiwa sepak bola Saudi yang sebenarnya tidak tinggal di ruang VIP Al-Nassr. Ia hidup di klub-klub 'kelas pekerja' ini.

"Sepak bola di sini bukan sekadar konten TikTok. Bagi masyarakat Buraidah dan Khamis Mushait, klub adalah benteng terakhir identitas lokal sebelum gelombang modernisasi menyapu segalanya."

Pemberontakan 'Kelas Menengah'

Mari kita bedah narasi ini. Di satu sisi, ada 'Big Four' yang disuntik steroid finansial. Di sisi lain, ada klub seperti Al-Taawoun. Berbasis di Buraidah—wilayah yang lebih dikenal dengan kurma kualitas ekspornya daripada gaya hidup kosmopolitan—mereka adalah anomali. Tanpa anggaran tak terbatas, mereka konsisten menjadi duri dalam daging bagi para raksasa. Mereka adalah 'Moneyball' versi gurun.

Lalu ada Damac. Klub yang secara geografis terisolasi, seringkali diremehkan, namun memiliki keunggulan kandang yang mematikan karena ketinggian lokasinya. Pertemuan kedua tim ini bukan sekadar perebutan tiga poin; ini adalah demonstrasi bahwa uang tidak bisa membeli kohesi tim dalam semalam. Apakah Anda melihat bagaimana mereka bermain? Tidak ada ego yang meledak-ledak. Striker mereka mengejar bola liar seolah-olah gaji bulan depan bergantung padanya (dan mungkin memang begitu).

👀 Apa yang membuat laga ini 'Otentik'?

Berbeda dengan laga Al-Hilal atau Al-Ittihad yang tiketnya sering diborong calo atau fans selebritas, laga Damac vs Al-Taawoun dihadiri oleh basis penggemar turun-temurun. Ultras Al-Taawoun dikenal sebagai salah satu yang paling bising dan terorganisir, membawa drum dan nyanyian yang telah ada jauh sebelum visi 2030 dicanangkan. Ini adalah suara Arab Saudi yang asli, bukan yang dikemas untuk siaran TV global.

Identitas di Simpang Jalan

Apa yang sebenarnya dipertaruhkan di sini? Eksistensi. Dengan ambisi global Arab Saudi, ada ketakutan senyap bahwa klub-klub non-elit ini akan direduksi menjadi sekadar 'NPC' (karakter non-pemain) dalam video game milik PIF. Menjadi sekadar samsak tinju bagi Neymar dan kawan-kawan.

Namun, laga ini membuktikan sebaliknya. Kualitas taktik yang ditampilkan pelatih mereka seringkali lebih canggih daripada sekumpulan bintang yang bermain individualis. Al-Taawoun, khususnya, sering mengajarkan pelajaran pahit tentang disiplin pertahanan kepada tim-tim mahal itu.

Jadi, ketika peluit akhir berbunyi di Khamis Mushait, jangan hanya melihat skor akhir. Lihatlah wajah-wajah di tribun. Di sana ada kebanggaan yang keras kepala. Mereka seolah berkata: Silakan ambil bintang-bintang dunia itu, kami punya tim yang berjuang untuk kota kami, bukan untuk portofolio investasi.

Sepak bola Saudi sedang berubah, tak diragukan lagi. Tapi selama Damac dan Al-Taawoun masih bisa saling 'membunuh' dengan intensitas seperti ini, jantung otentik liga ini masih berdetak kencang.

DM
David MillerJournalist

Journalist specializing in Sport. Passionate about analyzing current trends.