Economy

IHSG Berdarah: Sabotase Senyap di Balik Narasi 'Fundamental Kuat'

Hentikan menyalahkan The Fed atau geopolitik. Ketika MSCI mengancam downgrade dan Goldman Sachs membuang aset RI, kita tidak sedang menghadapi 'angin sakal', tapi badai buatan sendiri yang mengancam mimpi 2045.

RC
Robert ChaseJournalist
February 24, 2026 at 05:01 PM3 min read
IHSG Berdarah: Sabotase Senyap di Balik Narasi 'Fundamental Kuat'

Layar merah di Bursa Efek Indonesia bukan lagi sekadar koreksi; itu adalah surat peringatan yang ditulis dengan tinta darah investor. Sementara para pejabat sibuk menenangkan publik dengan mantra usang "fundamental kita kuat", realitas di lantai bursa menceritakan kisah horor yang berbeda.

Apakah Anda benar-benar percaya narasi bahwa IHSG ambruk hanya karena Donald Trump bersin atau The Fed menahan suku bunga? (Tentu saja, itu yang mereka ingin Anda percayai). Mari kita bersikap jujur: pasar modal kita sedang disabotase. Bukan oleh asing, tapi oleh ketidakpastian kebijakan domestik yang amatir.

⚡ The Essentials

  • Ancaman Turun Kasta: MSCI memperingatkan potensi downgrade Indonesia dari Emerging ke Frontier Market—sebuah penghinaan bagi ekonomi G20.
  • Eksodus Asing: Goldman Sachs memotong rating RI menjadi "Underweight", memicu capital outflow masif di awal 2026.
  • Defisit Kepercayaan: Kebijakan fiskal agresif dan penunjukan pejabat bank sentral yang berbau nepotisme membuat investor memilih lari daripada menunggu.

Mari kita lihat data yang 'haram' dibicarakan oleh para pemengaruh saham yang dibayar untuk tetap optimis. Jika masalahnya adalah ekonomi global, mengapa tetangga kita justru berpesta?

Data Jangan Bohong: IHSG vs Tetangga

Sementara kita sibuk mencari kambing hitam, Vietnam dan Singapura justru mencatatkan return positif. Ini bukan soal angin global, ini soal siapa yang memiliki layar kapal yang bocor.

IndeksKinerja YTD 2026Status
VN-Index (Vietnam)+4.2%Bullish
Straits Times (Singapura)+2.8%Stabil
IHSG (Indonesia)-7.4%Crash

Bom Waktu Bernama MSCI

Inilah "sabotase" yang sebenarnya. Peringatan MSCI tentang transparansi pasar dan free float bukan sekadar teknisitas; itu adalah vonis mati bagi kredibilitas kita. Jika Indonesia turun kelas menjadi Frontier Market, dana pasif miliaran dolar akan dipaksa keluar secara otomatis oleh algoritma global.

Anda tidak bisa membangun "Indonesia Emas 2045" jika pasar modal Anda disetarakan dengan pasar yang belum matang. Kebijakan Full Call Auction (FCA) yang kontroversial, volatilitas saham-saham taipan tertentu (seperti drama BREN), dan intervensi regulator yang gagap telah mengubah bursa kita menjadi kasino yang tidak lucu.

"Modal adalah pengecut; ia tidak memiliki loyalitas, tidak memiliki bendera, dan ia melarikan diri pada tanda pertama ketidakpastian yang diciptakan oleh kebijakan yang plin-plan."

Fiskal yang Menakutkan

Di luar mekanisme bursa, ada ketakutan makro yang lebih gelap. Target pertumbuhan 8% terdengar heroik di pidato, tapi di mata manajer investasi global, itu terdengar seperti "defisit anggaran yang tidak terkendali". Ketika disiplin fiskal (warisan Sri Mulyani yang mulai terkikis) digantikan oleh populisme belanja negara, pasar obligasi bergejolak. Dan ketika pasar obligasi demam, pasar saham masuk ICU.

Pasar modal bukan sekadar tempat orang kaya bermain saham. Ini adalah mesin pendanaan untuk infrastruktur dan ekspansi korporasi. Jika mesin ini rusak karena ketidakpercayaan, dari mana uang untuk membangun Indonesia Emas? Utang lagi?

👀 Mengapa ini disebut 'Sabotase Senyap'?
Disebut sabotase karena kerusakannya berasal dari dalam (internal error). Ketidakpastian hukum, penunjukan pejabat strategis berdasarkan kedekatan (nepotisme) alih-alih kompetensi, dan aturan bursa yang berubah-ubah demi mengakomodasi kepentingan segelintir emiten besar adalah bentuk perusakan sistematis terhadap kepercayaan investor jangka panjang.

Jadi, lain kali Anda melihat portofolio Anda memerah, jangan hanya memaki layar. Tanyakan pada pembuat kebijakan: apakah mereka sedang membangun jembatan menuju 2045, atau sedang membakarnya demi keuntungan jangka pendek?

RC
Robert ChaseJournalist

Journalist specializing in Economy. Passionate about analyzing current trends.