Society

Ilusi Meritokrasi dan Kapitalisme di Balik 'Ayo Coba TKA'

Jarum jam menunjuk angka sebelas malam ketika jutaan siswa mencari kepastian nasib pada sebuah portal simulasi, tanpa menyadari bahwa sistem yang menjanjikan kesetaraan ini justru memutar roda raksasa kapitalisme pendidikan.

JC
Jennifer ClarkJournalist
February 27, 2026 at 05:03 AM3 min read
Ilusi Meritokrasi dan Kapitalisme di Balik 'Ayo Coba TKA'

Pukul 23.15 di sebuah kamar kos berukuran 3x3 meter, layar laptop Raka memancarkan cahaya redup. Jari pemuda berusia 14 tahun itu terus menekan tombol refresh pada laman resmi Kemendikdasmen. Di layar, kalimat "Ayo Coba TKA" berkedip bak papan reklame neon yang menjanjikan masa depan cerah. Ibunya, seorang penjahit rumahan, baru saja membelikan paket data ekstra agar Raka bisa ikut simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. (Sebuah ironi, bukan? Membeli akses untuk membuktikan kemampuan nalar secara gratis).

Raka hanyalah satu dari jutaan siswa yang terhanyut dalam euforia—atau lebih tepatnya, kepanikan massal—berbalut peluncuran portal asesmen nasional ini. Dari luar, narasi yang dibangun terdengar mulia: sebuah sistem evaluasi standar untuk memetakan capaian akademik secara objektif, tanpa kewajiban mutlak. Namun, mari kita bongkar apa yang sebenarnya bersembunyi di balik mantra dua kata tersebut.

Mesin Uang Bernama Kecemasan Akademik

Ketika negara mengetuk palu standar baru, pasar langsung mencium aroma keuntungan. Hanya dalam hitungan minggu setelah peluncuran platform simulasi, bermunculan entitas pihak ketiga, aplikasi edutech berlangganan, hingga bimbingan belajar eksklusif yang mengklaim memiliki bocoran soal nalar tingkat tinggi.

Apakah ini murni tentang pendidikan? Tentu saja tidak. Ini adalah komodifikasi kecemasan. Orang tua rela merogoh kocek jutaan rupiah demi membeli ketenangan pikiran, memastikan anak mereka tidak tertinggal dalam gerbong kompetisi. Industri bimbingan belajar tiba-tiba beralih rupa, mengganti spanduk lama mereka menjadi "Tembus TKA Sempurna". Kapitalisme pendidikan tidak pernah benar-benar mati; ia hanya berganti silabus.

👀 Siapa yang Sebenarnya Untung dari Tren TKA?
1. Raksasa Edutech: Menjual paket "Tryout Premium" dengan iming-iming analisis AI.
2. Penerbit Buku: Merilis buku tebal berlabel "Super Prediksi TKA 2026" padahal tes sesungguhnya diklaim berfokus pada penalaran dan literasi dinamis.
3. Provider Internet: Meningkatnya beban akses portal simulasi yang berujung pada naiknya penjualan kuota data belajar.

Kebohongan Manis Meritokrasi

Sistem pendidikan kita sering kali mendengungkan satu mantra sakti: siapa yang belajar keras, dialah yang menang. Meritokrasi seolah menjadi hakim paling adil di republik ini. Namun, frasa uji coba massal ini secara tidak sengaja mengupas ilusi tersebut secara telanjang.

Bagaimana mungkin kita bicara tentang adu kecerdasan yang setara ketika garis start-nya saja berbeda? Raka harus berbagi gawai dengan adiknya dan berjuang melawan sinyal putus-nyambung. Di sisi lain kota, seorang siswa elit mengerjakan simulasi yang sama di komputer tablet terbarunya, didampingi tutor privat berbayar mahal yang membedah setiap probabilitas algoritma soal.

"Meritokrasi tanpa keadilan struktural hanyalah darwinisme sosial yang dilegalkan. Kita tidak sedang mengukur kecerdasan murni anak-anak kita, melainkan sedang memvalidasi seberapa besar kapital yang dimiliki orang tua mereka."

Nasib Generasi di Tangan Algoritma

Lantas, apa yang jarang dibicarakan di ruang guru atau grup WhatsApp komite sekolah? Bahwa tes semacam ini pelan-pelan mengubah cara satu generasi memandang nilai diri mereka. Mereka direduksi menjadi deretan angka di atas kurva normal. Kegagalan akademik bukan lagi dilihat sebagai bahan evaluasi struktural, melainkan aib personal. "Kamu kurang rajin belajar," begitu teguran yang sering terdengar, mengabaikan fakta bahwa anak tersebut mungkin belajar dengan perut kosong dan mata kelelahan.

Di atas kertas, tes kemampuan ini mungkin dirancang dengan niat luhur pemetaan mutu pendidikan nasional. Namun di medan pertempuran sosial, ia berisiko menjelma menjadi mata uang baru penentu kasta akademik. Selama kita menolak mengakui bahwa kemampuan menjawab soal literasi berkorelasi erat dengan status gizi, akses literatur, dan privilese waktu luang, maka portal uji coba daring akan tetap menjadi sekadar undangan eksklusif bagi mereka yang mampu membelinya.

Pagi menjelang, dan Raka akhirnya berhasil melakukan login. Ia tersenyum tipis melihat layar, bersiap membuktikan bahwa ia layak. Di luar jendela, mesin industri pendidikan terus berderu nyaring, memakan korban-korban kepanikan baru yang percaya bahwa nasib mereka sepenuhnya ada di tangan mereka sendiri.

JC
Jennifer ClarkJournalist

Journalist specializing in Society. Passionate about analyzing current trends.