Society

KRL Jabodetabek: Romantisasi Penderitaan dan Matematika yang Meleset

Di balik narasi 'transportasi publik modern', jutaan komuter Jabodetabek sedang memainkan russian roulette dengan kewarasan mereka sendiri. Apakah kita sedang menuju efisiensi, atau sekadar memadatkan lebih banyak manusia ke dalam kaleng sarden demi grafik statistik?

JC
Jennifer ClarkJournalist
January 15, 2026 at 02:01 PM3 min read
KRL Jabodetabek: Romantisasi Penderitaan dan Matematika yang Meleset

Mari kita hentikan sejenak tepuk tangan untuk rekor jumlah penumpang harian yang sering dipamerkan di rilis pers resmi. Angka 1 juta penumpang per hari bukanlah trofi kesuksesan; dalam kondisi armada saat ini, itu adalah jeritan minta tolong yang disamarkan sebagai statistik.

Sebagai seorang analis yang melihat data melampaui pita peresmian, narasi tentang KRL sebagai "tulang punggung" transportasi Jakarta mulai terasa seperti lelucon gelap. Kita diajak percaya bahwa berdesak-desakan hingga tulang rusuk terasa retak di Stasiun Manggarai adalah harga wajar untuk sebuah "kemajuan". (Spoiler: Tidak wajar).

Efisiensi di Atas Kertas vs Realitas Lapangan

Istilah "Efisiensi" sering dilemparkan oleh birokrat di Kementerian Perhubungan dan operator. Namun, definisi efisiensi mereka tampaknya berbeda dengan definisi penumpang. Bagi pemangku kebijakan, efisiensi adalah load factor maksimal—memuat sebanyak mungkin unit biologis (baca: manusia) ke dalam gerbong dengan biaya operasional seminimal mungkin.

Lihatlah celah menganga antara rencana pengadaan armada dengan realitas pensiunnya kereta tua. Kita tahu seri 05, 6000, dan 7000 sudah megap-megap, tapi drama impor bekas vs produksi baru Inka memakan waktu tahunan yang berharga. Hasilnya? Penumpukan manusia yang tidak manusiawi.

MetrikNarasi ResmiRealitas Penumpang
Headway"Semakin singkat dengan GAPEKA baru"Menunggu 15 menit di jam sibuk terasa seperti 1 jam karena ketidakpastian sinyal masuk Manggarai.
Transit Manggarai"Hub sentral modern"Labirin tangga tak berujung dan risiko terinjak-injak (Zombie Apocalypse simulator).
Armada"Retrofit sedang berjalan"AC panas, gangguan traksi rutin, dan pengurangan rangkaian dari 12 ke 8 kereta.

Subsidi Salah Sasaran atau Sasaran Empuk?

Wacana subsidi berbasis NIK adalah puncak dari ketidakpekaan analitis. Mengapa? Karena ini mengasumsikan bahwa orang kaya mau naik KRL di jam sibuk demi menghemat sepuluh ribu perak. Ini asumsi yang menggelikan.

Mereka yang memiliki opsi kenyamanan (mobil pribadi, taksi online) tidak akan mau berimpitan ketiak dengan orang asing di Tanah Abang kecuali terpaksa oleh waktu, bukan biaya. Mencabut subsidi justru menghukum kelas menengah yang "tanggung"—mereka yang terlalu kaya untuk bantuan sosial, tapi terlalu miskin untuk membeli kewarasan lewat transportasi pribadi.

"Sistem transportasi yang sukses bukanlah ketika orang miskin memiliki mobil, tetapi ketika orang kaya menggunakan transportasi umum. Namun, jika transportasi umumnya membuat trauma, jangan harap orang kaya bertahan lama."

Siapa Pemenang Sebenarnya?

Jika penumpang kehilangan kenyamanan dan negara terus menyuntikkan dana PSO (Public Service Obligation) yang membengkak, lantas siapa yang diuntungkan dari sistem yang berjalan tertatih-tatih ini?

Lihatlah ke arah para pengembang properti raksasa yang menjual mimpi Transit Oriented Development (TOD). Apartemen-apartemen "nempel stasiun" dijual dengan harga premium atas nama aksesibilitas, sementara beban infrastrukturnya ditanggung oleh BUMN yang kelebihan muatan. Pengusaha juga diuntungkan: mereka mendapatkan tenaga kerja murah yang bisa dimobilisasi dari Bogor dan Bekasi tanpa harus membayar tunjangan transportasi yang setara dengan biaya hidup Jakarta.

KRL, dalam formatnya saat ini, berfungsi sebagai pita perekat raksasa yang menahan agar gelembung ekonomi Jabodetabek tidak pecah. Ia mensubsidi biaya hidup pekerja agar tetap bisa digaji rendah di pusat kota. Efisiensi ini semu karena dibayar dengan mata uang yang tak tercatat di laporan keuangan: waktu, stres, dan martabat jutaan manusia yang setiap pagi harus bertarung hanya untuk berangkat kerja.

Sampai kapan kita akan menormalisasi penderitaan ini sebagai "perjuangan"?

JC
Jennifer ClarkJournalist

Journalist specializing in Society. Passionate about analyzing current trends.