Society

Simulasi TKA: Tirani Algoritma di Balik Bisnis Cemas Masuk Kampus

Jutaan siswa menggantungkan nasib pada skor prediksi dari platform persiapan ujian. Namun, di balik janji manis kecerdasan buatan, tersembunyi mesin pencetak uang yang mengeksploitasi kepanikan massal.

JC
Jennifer ClarkJournalist
February 28, 2026 at 02:02 AM2 min read
Simulasi TKA: Tirani Algoritma di Balik Bisnis Cemas Masuk Kampus

Layar berkedip menampilkan angka 680. Merah. Anda dinyatakan "Gagal Tembus Kedokteran". Jutaan siswa SMA di seluruh Indonesia menatap layar gawai mereka setiap akhir pekan dengan jantung berdebar. Mereka baru saja menyelesaikan simulasi Tes Kompetensi Akademik (TKA) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Platform edukasi daring dengan bangga mengklaim menggunakan sistem penilaian Item Response Theory (IRT) yang konon setara dengan standar resmi dari panitia SNPMB (Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru).

Benarkah sederet kode ini bisa menakar masa depan seseorang secara presisi?

(Algoritma tidak pernah berbohong, begitu kata para pemasar startup edtech). Kenyataannya, kita sedang menyaksikan lahirnya sebuah industri raksasa yang hidup dari satu komoditas utama: kecemasan. Saat platform menjanjikan akurasi prediksi kelulusan universitas negeri, mereka sebenarnya sedang mengurung siswa dalam sebuah tirani angka yang tidak transparan. Tidak ada lembaga independen, apalagi Kementerian Pendidikan, yang mengaudit sistem kecerdasan buatan (AI) yang mereka agungkan.

"Mereka menjual prediksi seolah itu adalah takdir. Padahal, algoritma tryout ini seringkali hanya model statistik dasar yang sengaja dirancang agar skor awal pengguna terlihat rendah, memicu panik sehingga mereka terus membeli paket premium."

Siapa yang sebenarnya diuntungkan di sini? Tentu bukan siswa yang menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah demi "tiket emas" bernama paket garansi lulus. Mari kita bongkar asimetri informasi yang terjadi di balik layar aplikasi-aplikasi ini.

Janji Platform Edukasi Realitas Sistem
Prediksi akurat menggunakan algoritma IRT asli. Bobot soal seringkali arbitrer tanpa validasi dari pembuat soal resmi.
AI mendeteksi kelemahan kognitif secara spesifik. Hanya pengelompokan statis berdasarkan tag soal (matematika, logika).
Persiapan matang untuk menjaga kesehatan mental. Menciptakan siklus adiksi tryout dan memicu burnout massal pada Gen Z.

Apa yang jarang dibicarakan di ruang publik adalah pergeseran fundamental dalam esensi pendidikan kita akibat hegemoni teknologi ini. Belajar bukan lagi tentang memahami konsep dasar atau mengasah nalar kritis. Anak-anak kita kini dilatih untuk menjadi peretas sistem (mereka menghafal pola, menebak bobot skor, dan menavigasi jebakan algoritma).

Ketika sebuah perusahaan swasta memegang kendali atas standar psikologis "pintar" atau "bodoh" berdasarkan simulasi ciptaan mereka sendiri, kita harus mulai mempertanyakan legitimasinya. Apakah kita sedang menyiapkan generasi pemikir yang merdeka, atau sekadar sepasukan gladiator yang dilatih secara mekanis untuk memuaskan nafsu mesin pembaca skor?

Angka-angka fiktif di layar itu tidak mendefinisikan kecerdasan intelektual. Mereka hanya mengukur seberapa baik dan seberapa mahal Anda bersedia bermain dalam simulasi yang aturannya diciptakan oleh mereka yang mencari untung.

JC
Jennifer ClarkJournalist

Journalist specializing in Society. Passionate about analyzing current trends.