SNPMB: Kotak Hitam atau Ilusi Pemerataan? Saat Masa Depan Diundi Algoritma
Jam 15.00 WIB bukan lagi sekadar waktu sholat Asar, melainkan jam pengadilan bagi jutaan siswa. Di balik layar 'Pengumuman', terdapat mekanisme seleksi yang diklaim adil, namun benarkah algoritma buta warna terhadap privilese? Mari kita bedah apa yang tidak dikatakan brosur resmi.

Ada ritual tahunan yang mengerikan di negeri ini. Jutaan remaja menatap layar gawai, jari gemetar, menanti server pusat memuntahkan satu dari dua warna: biru untuk surga (lulus), merah untuk neraka (gagal). SNPMB (Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru) telah menjadi lebih dari sekadar ujian; ia adalah orakel digital.
Narasi resminya selalu berkilau: Transformasi. Holistik. Merdeka. Mereka menghapus Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang berbasis hafalan mata pelajaran, menggantinya dengan Tes Potensi Skolastik (TPS) dan penalaran. Tujuannya? Meratakan lapangan bermain. Tapi sebagai analis yang melihat data, alis saya terangkat. Apakah kita sedang memperbaiki sistem, atau hanya mengganti jenis saringannya?
Sistem ini tidak mengukur seberapa cerdas Anda, melainkan seberapa cepat Anda berpikir sesuai pola yang diinginkan pembuat soal. Ini bukan ujian kecerdasan, ini ujian kepatuhan logika.
Mitos Indeks Sekolah
Mari bicara tentang gajah di pelupuk mata: SNBP (Jalur Prestasi). Di atas kertas, ini adalah penghargaan bagi siswa konsisten. Namun, di ruang server, ini adalah pertarungan 'Indeks Sekolah'. Nilai 90 di SMA pinggiran tidak sama 'harganya' dengan nilai 85 di SMA favorit di kota besar. Ada faktor pengali rahasia.
Transparansi? Nol besar. Siswa tidak pernah tahu persis mengapa mereka terpental meski nilai rapor mereka nyaris sempurna. Kita dipaksa percaya bahwa algoritma itu adil, padahal algoritma hanyalah opini manusia yang diterjemahkan ke dalam kode (dan bias manusia itu terbawa). Apakah adil membebankan dosa sejarah kualitas sekolah kepada siswa yang baru berusia 17 tahun?
Data Bicara: Janji vs Realita
Perubahan format ujian nyatanya tidak membunuh industri bimbingan belajar (bimbel). Mereka hanya bermutasi. Lihat perbandingannya:
| Janji Perubahan | Realita di Lapangan |
|---|---|
| Menghapus Hafalan | Menggantinya dengan 'Drilling' soal logika yang bisa dipolakan oleh Bimbel mahal. |
| Inklusivitas | Siswa urban dengan akses literasi tinggi mendominasi skor Literasi & Penalaran. |
| Mengurangi Stres | Ketidakpastian meningkat karena 'passing grade' menjadi semakin kabur dan dinamis. |
Jebakan Literasi Semu
Tes Literasi dan Penalaran Matematika terdengar modern. Sangat 'PISA-oriented'. Tapi ada ironi pahit di sini. Bagaimana kita mengharapkan siswa dari daerah dengan akses buku minim untuk bersaing head-to-head dalam tes literasi kompleks melawan anak-anak Jakarta yang terpapar teks analitis sejak SD?
Sistem ini mengasumsikan semua peserta lari dari garis start yang sama. Padahal, sebagian memakai sepatu lari karbon, sebagian lagi nyeker di jalan berbatu. Mengubah soal ujian tanpa memperbaiki ketimpangan kualitas pendidikan dasar hanyalah kosmetik kebijakan.
Pada akhirnya, layar biru atau merah itu bukan vonis mutlak atas kapasitas otak seseorang. Itu hanyalah notifikasi seberapa baik seorang anak cocok dengan parameter yang ditentukan oleh segelintir teknokrat di Jakarta hari ini. Jangan biarkan algoritma mendefinisikan harga diri.


