Society

Yudas 2.0: Saat Algoritma Mengubah Pengkhianatan Menjadi Mata Uang

Lupakan tiga puluh keping perak. Hari ini, harga sebuah pengkhianatan dihitung dalam engagement rate. Dari Getsemani hingga trending topic, kita tidak pernah berhenti mencari kambing hitam; kita hanya memindahkan tempat eksekusinya.

JC
Jennifer ClarkJournalist
February 5, 2026 at 11:01 AM3 min read
Yudas 2.0: Saat Algoritma Mengubah Pengkhianatan Menjadi Mata Uang

Ada kepuasan aneh saat kita menunjuk jari pada seorang pengkhianat. Rasanya seperti menggaruk gatal di bagian otak reptil kita yang paling purba. Yudas Iskariot, nama yang telah menjadi sinonim dengan perfiditas selama dua milenium, bukan sekadar tokoh sejarah atau teologis. Dia adalah arketipe. Dan tebak apa? Di era di mana reputasi bisa hancur dalam satu kali refresh layar ponsel, kita membutuhkan Yudas lebih dari sebelumnya.

Mari kita bersikap skeptis sejenak terhadap narasi kemajuan moral kita. Apakah kita benar-benar lebih beradab daripada kerumunan yang membawa obor di Yerusalem? Atau apakah kita hanya mengganti obor dengan tombol Quote Retweet?

Komodifikasi Sang Pendosa

Selama berabad-abad, Yudas adalah 'penjahat yang diperlukan'. Tanpa ciuman di taman Getsemani, tidak ada penyaliban. Tanpa penyaliban, tidak ada kebangkitan. Teologi Kristen bergulat dengan paradoks ini (apakah dia penjahat atau pion takdir?), tetapi budaya pop tidak pernah peduli pada nuansa. Dante menempatkannya di mulut Setan di lapisan neraka paling bawah. Lukisan Renaissance memberinya wajah yang sengaja dibuat jelek untuk memvalidasi prasangka fisiognomi.

Sekarang, percepat waktu ke abad 21. Kita tidak lagi menyalibkan orang di bukit, kita melakukannya di kolom komentar. Mekanismenya identik: identifikasi target, isolasi kesalahan, dan lemparkan batu pertama secara kolektif. Bedanya? Dulu Yudas dibayar 30 keping perak oleh imam besar. Hari ini, 'pengkhianatan'—atau lebih tepatnya, eksposure terhadap seseorang yang dianggap melanggar kode moral kelompok—menghasilkan pendapatan iklan bagi platform.

👀 [Sisi Gelap Sejarah] Apakah Yudas Benar-Benar Punya Pilihan?

Ini adalah pertanyaan yang membuat teolog sakit kepala selama berabad-abad. Penemuan Injil Yudas (teks Gnostik dari abad ke-3 yang dipublikasikan pada 2006) membalikkan narasi: teks ini mengklaim bahwa Yudas adalah murid yang paling setia, yang melakukan pengkhianatan atas permintaan langsung Yesus untuk melepaskan roh-Nya dari tubuh fisik. Jika versi ini benar, Yudas bukan pengkhianat, melainkan martir terhebat yang rela namanya dihancurkan selamanya demi misi gurunya. Sebuah plot twist yang bahkan penulis skenario Hollywood pun akan iri.

Algoritma sebagai Sanhedrin Baru

Di sinilah letak ironi terbesar. Media sosial, yang dijanjikan sebagai alat koneksi, justru didesain untuk memburu Yudas-Yudas baru setiap hari. Mengapa? Karena kemarahan adalah bahan bakar viralitas. Algoritma tidak mempromosikan perdamaian; ia mempromosikan konflik.

Ketika seseorang melakukan 'pengkhianatan' terhadap norma sosial (salah bicara, tweet lama yang digali kembali, atau opini yang tidak populer), sistem memberikan penghargaan kepada mereka yang paling keras berteriak. Kita semua menjadi hakim, juri, dan algojo dalam pengadilan tanpa prosedur hukum.

"Kita tidak membenci pengkhianat karena kita mencintai keadilan. Kita membenci mereka karena itu membuat kita merasa suci secara instan tanpa perlu usaha."

Jejak warisan Yudas kini bukan lagi tentang teologi penebusan. Ini tentang ekonomi atensi. Kita terus menciptakan siklus pengkhianatan dan hukuman publik karena, jujur saja, hidup terasa membosankan tanpa seseorang untuk disalahkan.

Cermin Retak di Layar Hitam

Jika kita melihat lebih dekat pada fenomena cancel culture atau doxing, kita akan melihat pola yang sama dengan kisah kuno itu: kebutuhan akan kambing hitam untuk menyatukan kelompok. 'Kami baik karena kami bukan Dia'.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mencari Yudas di luar sana. Jejak warisan sang pengkhianat tidak tertulis di kitab suci kuno yang berdebu, melainkan terkoding rapi dalam hasrat kita untuk melihat orang lain jatuh, hanya agar kita bisa merasa sedikit lebih tinggi. Tiga puluh keping perak itu kini berbentuk notifikasi 'like' di ponsel Anda. Dan percayalah, harganya masih semurah dulu.

JC
Jennifer ClarkJournalist

Journalist specializing in Society. Passionate about analyzing current trends.