Economía

Biru di Nadi, Cuan di Hati: Saat Persib Menghidupi Kota Kembang

Jalanan Bandung macet total bukan sekadar gangguan lalu lintas; itu adalah tanda nadi ekonomi sedang berdenyut kencang. Di balik sorak-sorai Bobotoh, ada sirkulasi uang miliaran rupiah yang menghidupi semua orang, dari CEO hingga pedagang cuanki.

AR
Alejandro RuizPeriodista
6 de febrero de 2026, 14:013 min de lectura
Biru di Nadi, Cuan di Hati: Saat Persib Menghidupi Kota Kembang

Bayangkan Mang Ujang. Dia bukan striker, bukan pelatih, bahkan mungkin tidak hapal strategi gegenpressing. Dia hanya pedagang cuanki yang mangkal di sekitaran Gedung Sate. Tapi nasib dompet Mang Ujang—dan ribuan pedagang kecil lainnya—terikat pada satu hal: performa 11 pria yang berlari mengejar bola di lapangan.

Saat Persib menang, Bandung tidak tidur. Euforia itu cair. Ia melelehkan pertahanan dompet para Bobotoh. Kopi laku, bensin eceran habis, angkot penuh sesak (lebih dari biasanya), dan kaos printing 'KW Super' di pinggir jalan terjual bak kacang goreng.

Ini bukan sekadar olahraga. Ini adalah fenomena mikro-ekonomi yang masif.

"Persib itu bukan tim sepak bola. Persib itu agama kedua dan departemen perdagangan tidak resmi bagi warga Jawa Barat."

Identitas yang Dijual Mahal

Mari kita bicara jujur. Berapa banyak kota di Indonesia yang punya brand sekuat Bandung dengan Persib-nya? Jakarta punya Persija, Surabaya punya Persebaya. Tapi simbiosis antara budaya Sunda dan 'Maung Bandung' memiliki rasa yang berbeda. Ada fanatisme yang dikelola menjadi ekosistem.

Sejak lepas dari APBD dan dikelola secara profesional oleh PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), klub ini bertransformasi menjadi korporasi raksasa. Mereka tidak lagi 'mengemis' dana daerah, mereka justru memutar roda ekonomi daerah.

Coba lihat Jalan Sulanjana atau area Graha Persib. Itu bukan kantor klub biasa; itu adalah pusat ritel. Merchandise resmi Persib menjadi simbol status sosial. Memakai jersey original bukan hanya soal dukungan, tapi pernyataan: "Aing mampu, aing bangga".

Efek Domino: Dari Stadion ke Pasar Baru

Kita sering terjebak melihat angka transfer pemain yang fantastis. Tapi, pernahkah Anda menghitung dampak turunannya? Ekonom sering menyebutnya multiplier effect. Dalam kasus Persib, efek ini brutal—dalam artian positif.

Ketika laga big match digelar (misalnya melawan musuh bebuyutan), okupansi hotel di Bandung melonjak. Orang datang bukan hanya untuk menonton, tapi untuk 'merasakan' atmosfernya. Mereka butuh makan, mereka butuh oleh-oleh, mereka butuh transportasi.

Berikut adalah perbandingan kasar bagaimana 'Hari Persib' mengubah wajah ekonomi kota dibandingkan hari biasa:

SektorHari Biasa (Weekday)Hari Pertandingan (Home)
Okupansi Kafe (Nobar)40-60%95-100% (Full Booked)
Penjualan Jersey (Sentra Suci)StabilMelonjak hingga 300%
Trafik Media Sosial LokalStandarTrending Topic Nasional

Sisi Gelap dan Potensi yang Hilang

Namun, tidak semuanya manis seperti peuyeum. Ada paradoks besar di sini. Ekonomi 'bawah tanah' yang digerakkan oleh pembajakan masih sangat besar. Berapa miliar potensi pendapatan klub yang hilang karena jersey palsu? Banyak. Sangat banyak.

Tapi, tunggu dulu. Jika kita melihat dari kacamata 'The Storyteller', pedagang jersey bajakan di Kosambi atau Cicadas juga pahlawan ekonomi bagi keluarga mereka. Persib menghidupi mereka, meski secara teknis 'ilegal' di mata hukum hak cipta. Ini adalah area abu-abu yang kompleks. Apakah klub harus memberangus mereka? Atau merangkul mereka sebagai distributor tingkat bawah dengan lisensi murah?

Pertanyaan ini belum terjawab tuntas. Tapi satu hal yang pasti: Persib sudah melampaui fungsinya sebagai klub olahraga. Ia adalah BUMN (Badan Usaha Milik Nini-Aki) tak resmi yang menjaga dapur warga Bandung tetap mengepul. Jadi, lain kali Anda terjebak macet di Pasteur saat Persib main, jangan mengeluh. Itu suara uang yang sedang berputar.

AR
Alejandro RuizPeriodista

Periodista especializado en Economía. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.