Economía

Di Balik IHSG Berdarah: Algoritma, Bandar, dan Ilusi Pasar Wajar

Layar trading Anda merah, analis TV sibuk menyalahkan 'The Fed' atau perang nun jauh di sana. Namun, ada monster lain di ruang server dan grup Telegram tertutup. Mari bicara jujur soal siapa yang sebenarnya memegang kendali remote kontrol bursa kita.

AR
Alejandro RuizPeriodista
2 de febrero de 2026, 08:053 min de lectura
Di Balik IHSG Berdarah: Algoritma, Bandar, dan Ilusi Pasar Wajar

Kita sudah terlalu sering mendengar narasi basi itu. IHSG terkoreksi satu persen, dan headline berita langsung berteriak panik seolah langit akan runtuh, mengambinghitamkan inflasi Amerika atau batuknya ekonomi Tiongkok. Nyaman sekali, bukan? Menyalahkan sesuatu yang tidak bisa kita sentuh.

Tapi bagi siapa pun yang bersedia melihat lebih dekat (dan mematikan suara bising para 'pakar' dadakan di Instagram), realitas di lantai bursa Indonesia jauh lebih gelap dan, jujur saja, lebih terstruktur.

"Pasar saham itu bukan tempat di mana uang diciptakan. Itu hanya tempat di mana uang berpindah dari kantong si tidak sabar ke kantong si perencana—atau dalam kasus kita, dari ritel yang naif ke algoritma yang predator."

Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi saat portofolio Anda mendadak merah padahal fundamental perusahaan baik-baik saja.

Hantu di Dalam Mesin: Algoritma vs. Bandarmology Klasik

Dulu, kita mengenal istilah 'Bandarmology'—seni membaca pergerakan pemain besar (Big Money) yang mengakumulasi barang diam-diam. Dulu, ini dilakukan manual. Broker A beli, Broker B jual, oper-operan barang untuk menciptakan volume semu.

Sekarang? Bandar telah berevolusi. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan telepon ke dealer. Mereka menggunakan High-Frequency Trading (HFT) dan algoritma yang didesain khusus untuk memakan stop-loss Anda. Pernahkah Anda memasang batas rugi (stop loss) di harga tertentu, harga sahamnya turun menyentuh titik itu, lalu tiba-tiba memantul naik tinggi? Itu bukan kebetulan. Itu adalah algoritma yang 'menyapu' likuiditas.

Di bursa kita yang (katanya) makin modern ini, mesin-mesin ini mendeteksi ketakutan ritel lebih cepat daripada Anda mengedipkan mata.

Kotak Hitam Bernama Full Call Auction

Kita perlu bicara soal gajah di pelupuk mata: Papan Pemantauan Khusus dengan mekanisme Full Call Auction (FCA). Regulator menyebutnya sebagai perlindungan investor. Saya menyebutnya sebagai kamar gelap.

Bayangkan Anda ingin membeli barang, tapi Anda tidak boleh melihat siapa yang jual dan di harga berapa antrean terbentuk (bid/offer ditutup). Anda disuruh menembak dalam gelap. Mekanisme ini, yang diklaim untuk meredam volatilitas, justru sering kali menjadi sarang manipulasi yang sempurna. Tanpa transparansi order book, harga bisa dibentuk sesuka hati oleh mereka yang punya modal besar untuk menggerakkan harga ekuilibrium.

IndikatorKoreksi Pasar OrganikManipulasi Terstruktur
VolumeMerata, sejalan dengan penurunan harga.Lonjakan aneh di menit akhir atau volume tipis tapi harga jatuh dalam.
BeritaAda sentimen makro (Inflasi, Laporan Keuangan).Hening. Tidak ada berita buruk, tapi saham ARB berjilid.
Order BookAntrean jual/beli tebal dan logis.Bid palsu yang sering dicabut (fake bid) atau guyuran masif tiba-tiba (Haka/Haki).

Sentimen Rakitan: Pasukan 'Pom-Pom'

Algoritma butuh bahan bakar, dan bahan bakar terbaik adalah emosi manusia. Di sinilah peran para influencer saham masuk. Polanya selalu sama: sebuah saham lapis ketiga tiba-tiba dibahas serentak oleh lima akun besar. "Potensi bagger!" teriak mereka.

Ritel FOMO (Fear Of Missing Out) masuk. Algoritma mendeteksi lonjakan volume dari ritel. Bandar asli mulai distribusi (jualan). Ketika ritel sadar, harga sudah dibanting ke dasar. Sentimen pasar di Indonesia bukan lagi cerminan kinerja emiten, melainkan hasil orkestrasi di grup-grup tertutup.

Apakah Kita Bisa Menang?

Bisa, tapi tidak dengan cara yang diajarkan buku teks kuno. Berhenti melihat IHSG sebagai angka suci. Indeks bisa saja hijau karena disokong 2-3 saham perbankan raksasa, sementara ratusan saham lainnya berdarah-darah.

Sikap skeptis adalah tameng terbaik Anda. Jika sebuah saham naik tanpa alasan jelas dan order book terlihat "terlalu rapi", itu bukan rezeki. Itu jebakan. Pasar modal kita adalah hutan rimba dengan CCTV yang sering mati mendadak; jangan berjalan sendirian tanpa membawa senter logika.

AR
Alejandro RuizPeriodista

Periodista especializado en Economía. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.