Cultura

Mayat di Perpustakaan Data: Obsesi Algoritma pada Agatha Christie

Netflix mengangkat 'The Seven Dials Mystery'. Bukan karena dunia mendadak peduli pada novel tahun 1929 ini, melainkan karena dalam perang streaming, nama Agatha Christie adalah satu-satunya pelampung yang dijamin tidak akan bocor.

SN
Sofía NavarroPeriodista
18 de enero de 2026, 08:013 min de lectura
Mayat di Perpustakaan Data: Obsesi Algoritma pada Agatha Christie

Mari jujur sejenak. Berapa banyak dari Anda yang benar-benar pernah membaca The Seven Dials Mystery? Bukan Orient Express, bukan Death on the Nile. Tapi kisah aneh tentang jam weker dan perkumpulan rahasia yang ditulis Agatha Christie saat dia (mungkin) sedang ingin bereksperimen dengan genre thriller mata-mata ringan.

Sedikit. Sangat sedikit.

Namun, Netflix baru saja memberikan lampu hijau untuk adaptasi besar-besaran, ditulis oleh Chris Chibnall (mantan showrunner Doctor Who). Apakah ini kebangkitan artistik? Jangan naif. Ini adalah matematika murni. Dalam lanskap hiburan yang semakin terfragmentasi, di mana biaya produksi melambung dan rentang perhatian menyusut secepat es di Sahara, eksekutif studio tidak lagi mencari "cerita bagus". Mereka mencari IP (Intellectual Property) dengan risiko nol.

⚡ The Essentials

  • Proyek: Adaptasi The Seven Dials Mystery oleh Netflix.
  • Konteks: Hollywood kehabisan novel Christie yang "terkenal" dan mulai menggali arsip level B.
  • Analisis: Algoritma menyukai "Cozy Crime" karena retensi penonton yang tinggi dan faktor kenyamanan psikologis, bukan karena inovasi plot.

Mengapa Kita Diberi Makan Nostalgia (Lagi)?

Anda mungkin berpikir Anda yang memilih tontonan. Salah. Algoritma telah memetakan bahwa di masa ketidakpastian geopolitik dan ekonomi (baca: dunia nyata yang mengerikan), penonton cenderung mundur ke masa lalu. Kita menginginkan rumah pedesaan Inggris, teh sore, dan pembunuhan yang sopan di mana penjahatnya pasti tertangkap di halaman terakhir.

Christie bukan lagi sekadar penulis; dia adalah genre tersendiri. Sebuah merek dagang. Menyematkan namanya pada sebuah serial sama amannya dengan membeli obligasi negara (dulu). Tapi ada masalah menarik di sini: Kelangkaan Sumber Daya.

Tier Christie Status Adaptasi Nilai Algoritmik
The Hits
(Poirot, Marple)
Jenuh. Kenneth Branagh sudah menguasai layar lebar. Tinggi, tapi kompetisi ketat. Risiko bosan.
The Deep Cuts
(Seven Dials, Why Didn't They Ask Evans?)
Wilayah baru. Jarang disentuh sejak TV 80-an. Emas Baru. Terasa "baru" tapi punya label merek lama.

Ketika "B-Side" Menjadi Menu Utama

Keputusan mengangkat The Seven Dials Mystery menandai fase baru dalam eksploitasi warisan Christie. Kita telah menghabiskan semua hits terbaik. Sekarang, studio sedang mengais dasar tong (scraping the barrel). Tokoh utamanya, Lady Eileen "Bundle" Brent, adalah karakter yang menyenangkan, energik, dan... kurang dikenal.

Bagi Netflix, ini sempurna. Mereka bisa menjualnya sebagai "Agatha Christie" untuk menarik generasi boomer, sekaligus mengemasnya ulang dengan gaya Bridgerton atau Knives Out untuk menarik Gen Z yang kecanduan estetika TikTok. Plot aslinya? Sekunder. Yang dijual adalah vibe-nya.

"Kita tidak lagi mengadaptasi buku. Kita mengadaptasi perasaan aman yang diberikan oleh sampul buku tersebut. The Seven Dials Mystery bukanlah tentang misteri jam weker; ini tentang misteri bagaimana mempertahankan pelanggan bulanan agar tidak berhenti berlangganan."

Siapa yang Membayar Harganya?

Tentu, serial ini mungkin akan menghibur. Chris Chibnall tahu cara menulis televisi yang menarik. Tapi dominasi total mayat-mayat tua ini menciptakan kekosongan oksigen bagi penulis misteri orisinal kontemporer. Mengapa mengambil risiko pada naskah orisinal yang berani dan gelap, jika Anda bisa mendaur ulang formula berusia 100 tahun yang sudah divalidasi oleh jutaan poin data?

Algoritma tidak memiliki selera. Ia hanya memiliki memori. Dan memori itu memberitahunya bahwa kita tidak ingin dikejutkan; kita ingin dinina-bobokan oleh pola yang sama, berulang kali, sampai kita mati (mungkin diracun di perpustakaan, jika kita beruntung).

SN
Sofía NavarroPeriodista

Periodista especializado en Cultura. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.