Économie

Ahok: Glitch Sistemik atau Sekadar Update Software BUMN yang Gagal?

Lupakan narasi pahlawan atau penista. Basuki Tjahaja Purnama bukan lagi sekadar politisi; dia adalah stress-test berjalan bagi neraca keuangan negara. Apakah 'Algoritma Ahok' benar-benar memperbaiki sistem, atau hanya membuat kebisingan di ruang server birokrasi?

SG
Stéphane GuérinJournaliste
17 janvier 2026 à 11:053 min de lecture
Ahok: Glitch Sistemik atau Sekadar Update Software BUMN yang Gagal?

Mari kita hentikan sejenak romantisasi—atau demonisasi—sosok Basuki Tjahaja Purnama. Di ruang redaksi yang penuh dengan siaran pers yang dipoles rapi, mudah untuk terseret arus narasi: Ahok sang pendobrak, atau Ahok sang pengacau. Namun, jika Anda melihat laporan keuangan dan struktur tata kelola perusahaan pelat merah dengan kacamata seorang analis yang dingin (dan sedikit curiga), Anda akan melihat sesuatu yang berbeda.

Ahok bukan lagi manusia dalam pengertian politis konvensional. Dia telah bermetamorfosis menjadi sebuah algoritma.

Fungsinya? Mendeteksi inefisiensi. Masalahnya, apakah deteksi ini benar-benar berujung pada perbaikan, atau sekadar glitch yang membuat layar biru (Blue Screen of Death) pada sistem operasi BUMN kita yang sudah usang?

Mitos Profitabilitas vs Realitas Harga Minyak

Saat BTP (rebranding yang terdengar seperti kode saham, bukan?) duduk di kursi Komisaris Utama Pertamina, klaim laba triliunan rupiah sering dilemparkan ke publik sebagai bukti "Tangan Dingin Ahok". Tapi, tunggu dulu. Apakah kita benar-benar percaya bahwa efisiensi internal adalah satu-satunya variabel?

Seorang analis skeptis akan menunjuk pada fluktuasi harga minyak mentah dunia (ICP) dan kurs dolar. Ketika pasar global menguntungkan, seekor kucing pun bisa duduk di kursi komisaris dan perusahaan akan tetap untung. Pertanyaannya: seberapa besar korelasi antara teriakan-teriakan Ahok di ruang rapat dengan angka di baris paling bawah laporan laba rugi?

VariabelNarasi Publik (The Hype)Analisis Skeptis (The Reality)
Efisiensi Anggaran"Ahok memotong biaya siluman."Pemotongan Capex seringkali menghambat ekspansi jangka panjang demi memoles laporan kuartalan.
Transparansi"Semua dibuka ke publik."Hanya data yang 'aman' yang dibuka; kontrak mafia migas hulu tetaplah kotak hitam yang sulit ditembus.
Digitalisasi"Aplikasi untuk semua!"Seringkali menjadi proyek pengadaan baru yang membebani OPEX tanpa adopsi user yang organik.

Bukan CEO, Tapi Auditor Tanpa Mandat

Kekuatan—dan kelemahan—terbesar Ahok adalah dia beroperasi bukan sebagai eksekutif bisnis, melainkan sebagai auditor forensik yang kebetulan diberi mikrofon. Gaya kepemimpinannya adalah antitesis dari budaya "asal bapak senang" yang menjadi pelumas roda birokrasi Indonesia selama berdekade-dekade.

Dia tidak membangun jembatan; dia membakar jembatan untuk melihat siapa yang panik mencari jalan keluar. (Efektif? Mungkin. Berkelanjutan? Sangat diragukan).

Ketika dia mundur untuk berkampanye pada 2024, banyak yang bernapas lega di menara gading BUMN. Bukan karena mereka membencinya secara pribadi, tetapi karena glitch itu akhirnya hilang. Sistem bisa kembali berjalan "normal". Dan di sinilah letak tragedinya: Normal di Indonesia berarti inefisien.

"Sistem birokrasi kita dirancang untuk menolak benda asing. Ahok, dengan segala kekurangannya, adalah benda asing yang memaksa sistem imun korupsi bereaksi keras. Demamnya tinggi, tapi apakah penyakitnya sembuh?"

Algoritma Tanpa Hardware yang Kompatibel

Apa yang jarang dibicarakan orang adalah bahwa "Ahokisme" sebagai metode bisnis memerlukan prasyarat yang tidak dimiliki Indonesia saat ini: penegakan hukum yang tanpa pandang bulu. Tanpa itu, transparansi ala Ahok hanya menjadi tontonan reality show.

Kita melihat angka-angka dibuka, kita melihat kemarahan di YouTube, tapi apakah ada perubahan struktural pada rantai pasok energi? Apakah mafia impor benar-benar gulung tikar, atau mereka hanya tiarap sementara menunggu badai berlalu?

Pada akhirnya, Ahok mungkin bukan solusi. Dia adalah cermin retak. Dia memperlihatkan betapa buruknya rupa birokrasi kita, namun dia sendiri tidak memiliki alat—atau wewenang penuh—untuk melakukan operasi plastik yang diperlukan. Dia adalah notifikasi error yang terus muncul di layar ponsel Anda: mengganggu, benar adanya, tapi seringkali kita swipe ke samping karena kita tidak tahu cara memperbaikinya.

SG
Stéphane GuérinJournaliste

L'argent ne dort jamais, et moi non plus. Je dissèque les marchés financiers au scalpel. Rentabilité garantie de l'info. L'inflation n'a aucun secret pour moi.