Sport

Coppa Italia: Pesta Privat Elite yang Menyamar Sebagai Kompetisi Rakyat

Sementara Piala FA menjanjikan dongeng tukang pos menekel jutawan, Coppa Italia justru menggelar karpet merah tebal untuk para raksasa. Sebuah investigasi tentang format turnamen yang dirancang untuk membunuh kejutan.

MB
Mehdi Ben ArfaJournaliste
10 février 2026 à 23:053 min de lecture
Coppa Italia: Pesta Privat Elite yang Menyamar Sebagai Kompetisi Rakyat

Mari kita jujur sejenak. Jika Anda mencari romansa sepak bola di mana tim divisi tiga menyingkirkan juara bertahan di lapangan berlumpur, Anda salah alamat. Coppa Italia bukanlah Coupe de France, dan jelas bukan Piala FA. Ini adalah turnamen yang, secara desain, membenci Cinderella.

Setiap tahun, narasi yang sama berulang. Kita diberitahu tentang "magis piala", tetapi ketika babak 16 besar dimulai, daftar tamunya terlihat seperti reuni keluarga Serie A yang membosankan. Apakah ini kebetulan? Tentu saja tidak. Ini adalah rekayasa sistematis.

Sistem yang Melindungi 'The Big 8'

Di Italia, meritokrasi memiliki tanda bintang. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menerapkan format yang unik—dan, mari kita sebut saja, elitis. Delapan tim teratas di klasemen Serie A musim sebelumnya mendapatkan 'tiket emas': mereka langsung lolos ke Babak 16 Besar.

Sementara tim-tim kecil dari Serie B atau Serie C harus berdarah-darah melalui babak penyisihan di musim panas (saat mayoritas orang Italia sedang berlibur di pantai), Juventus, Inter, dan Milan sedang duduk santai. Mereka baru masuk gelanggang di bulan Januari.

"Format Coppa Italia saat ini bukan tentang kompetisi; ini adalah polis asuransi bagi klub-klub besar agar tidak kehilangan muka—dan pendapatan—terlalu dini."

Tapi tunggu, ketidakadilannya tidak berhenti di situ. Di babak 16 besar, pertandingan dimainkan sebagai single leg. Siapa tuan rumahnya? Hampir selalu tim unggulan (berdasarkan nomor undian yang lagi-lagi menguntungkan posisi klasemen). Jadi, tim kecil tidak hanya harus menghadapi raksasa yang lebih bugar, tetapi mereka juga harus melakukannya di San Siro atau Allianz Stadium. Peluang terjadinya kejutan bukan hanya tipis; itu hampir mikroskopis.

Data Berbicara: Italia vs Inggris

Mari kita sandingkan data ini. Perbedaan filosofi antara Coppa Italia dan Piala FA Inggris sangat mencolok sehingga hampir menggelikan.

FiturCoppa Italia 🇮🇹Piala FA (Inggris) 🇬🇧
Entri Tim BesarLangsung 16 Besar (Januari)Babak Ketiga (Mencakup 64 tim)
Tuan RumahDitentukan seeding (Biasanya Tim Besar)Undian acak murni
Kejutan Finalis (10 thn)Hampir Nihil (Kecuali Atalanta 'naik kelas')Wigan, Hull City, Watford

Dikte Televisi dan Ketakutan Finansial

Mengapa FIGC mempertahankan format yang membosankan ini? Jawabannya klasik: Uang. Penyiar televisi membayar mahal untuk hak siar, dan mereka tidak membayar untuk melihat Feralpisalò vs Cittadella di perempat final. Mereka menginginkan Derby d'Italia. Mereka menginginkan drama Roma vs Lazio.

Format ini adalah garansi. Dengan memproteksi 8 tim besar hingga babak akhir, penyelenggara memastikan bahwa 'produk' yang dijual di babak perempat final dan semifinal memiliki nilai komersial tinggi. Kejam? Mungkin. Cerdas secara bisnis? Absolut.

Tentu, ada anomali. Kita ingat Cremonese yang secara ajaib mencapai semifinal baru-baru ini. Namun, mereka adalah pengecualian yang membuktikan aturan tersebut (dan mari kita ingat, mereka akhirnya terdegradasi dari Serie A di musim yang sama). Sistem ini dirancang untuk meminimalkan 'kecelakaan' semacam itu.

Apa yang Hilang?

Yang dikorbankan adalah jiwa kompetisi itu sendiri. Sepak bola Italia kehilangan momen-momen viral global ketika tim desa mengalahkan tim miliarder. Tanpa risiko nyata bagi tim besar, kemenangan mereka di Coppa Italia sering kali terasa hambar—sekadar trofi tambahan untuk lemari yang sudah penuh, bukan pencapaian heroik.

Selama format ini bertahan, Coppa Italia akan tetap menjadi turnamen eksklusif, sebuah pesta privat di mana tim-tim kecil hanya diundang sebagai pelayan, bukan tamu kehormatan.

MB
Mehdi Ben ArfaJournaliste

Tactique, stats et mauvaise foi. Le sport se joue sur le terrain, mais se gagne dans les commentaires. Analyse du jeu, du vestiaire et des tribunes.