Real Betis: Seni Menderita Bahagia di Bawah Matahari Sevilla
Di dunia yang terobsesi dengan kemenangan instan, Real Betis menawarkan sesuatu yang lebih langka: kesetiaan tanpa syarat. Mengapa 60.000 orang tetap bernyanyi saat kalah? Jawabannya ada di jiwa 'Manquepierda'.

Bayangkan seorang kakek tua di sebuah bar tapas sempit di distrik Heliópolis, Sevilla. Matanya berkaca-kaca, bukan karena timnya baru saja mengangkat piala Liga Champions, tetapi karena mereka baru saja kalah 0-2 di kandang sendiri. Dia tidak marah. Dia tersenyum, mengangkat gelas caña-nya, dan bergumam, "Viva el Betis, manque pierda!" (Hidup Betis, meskipun kalah!).
Bagi pengamat luar yang terbiasa dengan mesin kemenangan klinis seperti Real Madrid atau Manchester City, pemandangan ini tidak masuk akal. Mengapa merayakan kekalahan? Tapi di sinilah letak kesalahpahaman terbesarnya: menjadi Bético bukanlah tentang apa yang Anda menangkan, melainkan tentang siapa Anda saat Anda kalah.
"Betis mencapai moral yang tak tertandingi, tidak terluka oleh kekalahan." — Joaquín Romero Murube, Penyair.
Akar dari Sebuah 'Agama' Hijau-Putih
Untuk memahami Betis, Anda harus memutar waktu ke tahun 1950-an. Saat itu, klub terperosok ke Divisi Ketiga (Tercera División). Logika sepak bola modern mengatakan bahwa stadion seharusnya kosong. Sponsor lari. Klub mati. Namun, yang terjadi di Benito Villamarín adalah anomali sosiologis: stadion justru semakin penuh.
Inilah kelahiran filosofi manquepierda. Ini adalah perlawanan kelas pekerja Sevilla terhadap nasib buruk. Jika tetangga mereka yang "aristokrat" (Sevilla FC) mengukur kesuksesan dengan perak di lemari piala, Betis mengukurnya dengan detak jantung di tribun. Apakah ini romantisasi kegagalan? Mungkin. (Atau mungkin ini adalah bentuk tertinggi dari cinta tanpa syarat).
Daud vs Goliat: Pertarungan yang Tidak Adil
Di era modern, Manuel Pellegrini—seorang "Insinyur" sepak bola yang tenang—mencoba mengubah narasi ini. Dia tidak ingin Betis hanya menjadi pecundang yang dicintai. Dia ingin mereka menjadi pemenang yang tetap memiliki jiwa. Perpanjangan kontraknya hingga 2027 adalah sinyal stabilitas yang langka.
Namun, realitas ekonomi La Liga adalah tembok beton. Mari kita lihat betapa konyolnya perbandingan kekuatan finansial yang harus dihadapi Betis setiap minggunya, namun tetap mampu bersaing di papan atas:
| Metrik | Real Madrid (Goliat) | Real Betis (Daud) |
|---|---|---|
| Nilai Pasar Skuad | ~€1,3 Milyar | ~€220 Juta |
| Kapasitas Stadion | 81.044 (Bernabéu) | 60.721 (Villamarín) |
| Jumlah Gelar Liga | 36 | 1 (1935) |
| Filosofi Dasar | Menang adalah kewajiban | Setia adalah kewajiban |
Lihat angka di atas. Secara logika, Betis seharusnya hancur setiap kali bertemu raksasa. Namun, stadion mereka—Benito Villamarín—memiliki kapasitas terbesar keempat di Spanyol, seringkali lebih bising daripada "opera" di Bernabéu. Ini adalah bukti bahwa loyalitas tidak selalu berkorelasi dengan neraca keuangan.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Apa yang sebenarnya dipertaruhkan di sini? Di tengah dominasi uang minyak dan dana investasi negara dalam sepak bola, Real Betis berdiri sebagai benteng terakhir romantisme. Mereka merekrut pemain seperti Isco atau Nabil Fekir—jenius yang mungkin "rusak" atau terbuang di tempat lain—dan memberi mereka rumah untuk menjadi seniman lagi.
Apakah mereka akan memenangkan La Liga dalam waktu dekat? Hampir pasti tidak. (Kecuali ada keajaiban yang menentang hukum ekonomi). Tapi apakah itu penting bagi kakek di bar tadi? Tidak. Selama seragam Hijau-Putih itu masuk ke lapangan, dan selama mereka bertarung dengan keringat, Sevilla akan tetap terbelah dua. Dan di sisi hijau kota itu, penderitaan selalu terasa sedikit lebih manis.
Tactique, stats et mauvaise foi. Le sport se joue sur le terrain, mais se gagne dans les commentaires. Analyse du jeu, du vestiaire et des tribunes.

