Roblox: Kapitalisme Brutal Berkedok Taman Bermain Digital?
Di balik avatar kotak-kotak dan tawa anak-anak, tersembunyi mesin ekonomi yang lebih kejam daripada Wall Street. Apakah kita sedang melihat masa depan hiburan, atau bentuk baru eksploitasi tenaga kerja di bawah umur?

Mari kita hentikan kepura-puraan ini sebentar. Anda mungkin berpikir Roblox hanyalah versi modern dari Lego, tempat di mana keponakan Anda menghabiskan waktu membangun rumah impian atau bermain polisi-polisian. Narasi resmi perusahaan—yang, omong-omong, bernilai puluhan miliar dolar di bursa saham—selalu menekankan pada "imajinasi" dan "komunitas".
Tapi jika Anda melihat buku besarnya (seperti yang saya lakukan), cerita dongeng itu hancur berantakan. Roblox bukanlah taman bermain. Ini adalah simulasi kapitalisme tahap akhir yang paling efisien yang pernah diciptakan, dan tenaga kerjanya? Jutaan anak di bawah umur yang bermimpi menjadi kaya.
Ilusi Mata Uang Mainan
Jeniusnya Roblox bukan pada teknologinya. Grafisnya sengaja dibuat kasar. Fisikanya menggelikan. Kejeniusan sesungguhnya terletak pada Robux. Ini bukan sekadar koin dalam game; ini adalah mata uang perusahaan (company scrip) klasik, mirip dengan yang digunakan pemilik tambang batu bara abad ke-19 untuk membayar buruh agar uangnya hanya bisa dibelanjakan kembali di toko milik perusahaan.
Perhatikan selisihnya. Saat Anda membeli Robux, Anda membayar harga premium. Saat pengembang muda (seringkali remaja) ingin mencairkan Robux hasil kerja keras mereka kembali ke uang sungguhan (melalui program DevEx), nilai tukarnya jatuh drastis. Roblox mengambil potongan di setiap titik transaksi. Mereka adalah bank sentral, penarik pajak, dan pasar sekaligus.
"Roblox telah berhasil menciptakan ekonomi tertutup di mana 'rumah' tidak hanya selalu menang, tetapi 'rumah' memiliki semua uang bahkan sebelum permainan dimulai."
Matematika yang Tidak Masuk Akal
Mari kita bandingkan struktur ekonomi Roblox dengan standar industri teknologi yang sering kita keluhkan (seperti Apple atau Google). Angka-angka ini tidak berbohong, dan mereka cukup menakutkan jika Anda memikirkan siapa yang sebenarnya dirugikan di sini.
| Parameter | Apple App Store / Google Play | Ekonomi Roblox |
|---|---|---|
| Potongan Platform | 15% - 30% | Hingga 75% (setelah semua biaya) |
| Kontrol Mata Uang | Transparan (Mata Uang Fiat) | Sepenuhnya Terkontrol (Robux) |
| Peluang Sukses | Kompetitif | Sangat Tersaturasi (Mirip Lotre) |
Mimpi Buruk 'Play-to-Earn'
Apa yang jarang dibahas di ruang rapat investor adalah etika di balik model bisnis ini. Roblox pada dasarnya melakukan outsourcing pembuatan konten kepada basis pengguna mereka sendiri. Mereka tidak perlu membayar desainer level senior atau programmer mahal. Mengapa harus, jika ada anak berusia 14 tahun di Kansas atau Jakarta yang bersedia bekerja 10 jam sehari demi status sosial maya dan janji pendapatan yang, secara statistik, hampir mustahil dicapai?
Apakah ini demokratisasi pembuatan game? Atau ini adalah bentuk kerja paksa digital yang dikemas dengan warna-warna cerah? Sebagian besar "pengembang" di platform ini tidak akan pernah melihat uang sungguhan. Uang mereka tertahan di dalam ekosistem, dibelanjakan kembali untuk iklan di dalam platform agar game mereka dilihat orang lain, atau membeli item kosmetik virtual.
Siklus ini sempurna untuk pemegang saham RBLX. Uang masuk, tapi sangat sedikit yang benar-benar keluar. Mark Zuckerberg mungkin menghabiskan miliaran dolar mencoba membangun Metaverse yang steril dan korporat, tetapi Roblox telah membangunnya secara tidak sengaja—sebuah distopia kapitalis yang penuh warna, di mana warga negaranya bekerja tanpa henti, didorong oleh mimpi, dibayar dengan uang mainan, dan diawasi oleh algoritma yang tidak kenal ampun.
Geek, hacker et prophète à temps partiel. Je vous explique pourquoi votre grille-pain va bientôt dominer le monde. L'IA, la crypto et le futur, c'est maintenant.
