Olahraga

AC Milan: Ketika Algoritma dan Dolar AS Menjajah San Siro

Lupakan romantisasi era Maldini. Di bawah RedBird, AC Milan bukan lagi sekadar klub sepak bola, melainkan aset portofolio yang dijalankan oleh spreadsheet. Apakah jiwa Rossoneri sedang digadaikan demi EBITDA?

TR
Taufik Rahman
15 Januari 2026 pukul 21.313 menit baca
AC Milan: Ketika Algoritma dan Dolar AS Menjajah San Siro

Ada aroma yang berbeda di Milanello belakangan ini. Bukan bau rumput segar atau liniment khas ruang ganti, melainkan aroma tajam dari tinta printer laporan keuangan dan server yang bekerja lembur. Mari kita jujur sejenak: AC Milan yang Anda kenal—klub yang dikelola dengan hati, gairah, dan sedikit kegilaan keluarga Berlusconi—sudah mati. Yang berdiri sekarang adalah sebuah entitas korporat yang sangat efisien, sangat Amerika, dan terus terang, sangat dingin.

Ketika RedBird Capital mengambil alih kendali, narasinya berubah drastis. Tiba-tiba, kita tidak lagi berbicara tentang grinta (semangat juang) atau taktik Catenaccio. Kita berbicara tentang sinergi media, valuasi aset, dan kata sakti yang membuat purist sepak bola Italia merinding: Moneyball.

Bukan Pemain, Tapi Aset Data

Gerry Cardinale tidak membeli AC Milan karena dia mencintai warna merah dan hitam (meskipun departemen PR-nya pasti akan mengatakan sebaliknya). Dia membelinya karena dia melihat raksasa yang tertidur yang bisa dimonetisasi. Pendekatan ini mengubah total cara Milan merekrut pemain. Geoffrey Moncada dan timnya tidak lagi mencari pemain hanya dengan mata telanjang; mereka mencari anomali statistik.

Apakah Tijjani Reijnders atau Ruben Loftus-Cheek didatangkan murni karena kebutuhan taktik Stefano Pioli (atau sekarang Paulo Fonseca)? Atau karena algoritma menunjukkan bahwa rasio cost-to-performance mereka adalah yang paling menguntungkan untuk dijual kembali dalam dua tahun?

"Di mata investor Wall Street, penggemar yang menangis di tribun San Siro hanyalah 'customer engagement' yang belum dioptimalkan secara maksimal."

The Pulisic Effect: Sepak Bola atau Marketing?

Mari kita bicara tentang gajah di dalam ruangan: Christian Pulisic. Apakah dia pemain hebat? Tentu. Tapi jangan naif. Kedatangannya adalah langkah jenius—bukan di lapangan, tapi di neraca keuangan. Pulisic adalah kunci pembuka pasar Amerika Serikat, pasar yang selama ini sulit ditembus Serie A. Penjualan jersi melonjak, atensi media AS meledak.

Ini adalah spektakel yang dirancang dengan presisi bedah. Hasil di lapangan penting, tentu saja, tapi bagi RedBird, menjadi kompetitif secara finansial jauh lebih krusial daripada memenangkan Scudetto dengan cara membakar uang.

ParameterEra Silvio BerlusconiEra RedBird Capital
Filosofi TransferBeli bintang berapapun harganya (Gengsi)Beli pemain muda undervalued (Data)
Target UtamaTrofi Liga ChampionsStabilitas Neraca & Stadion Baru
Ikon KlubMaldini, Baresi (Legend)Ibrahimovic (sebagai 'Advisor' Manajemen)

Ilusi Keberlanjutan

Narasi resmi selalu menyebutkan "keberlanjutan". Terdengar mulia, bukan? Tapi dalam sepak bola modern, keberlanjutan seringkali menjadi eufemisme untuk "kurangnya ambisi". Fans Milan dipaksa menelan pil pahit pemecatan Paolo Maldini—jiwa klub itu sendiri—karena dia berani meminta investasi lebih untuk bersaing.

Sekarang, Milan adalah laboratorium eksperimen global. Mereka mencoba membuktikan bahwa Anda bisa menang tanpa harus bangkrut. Tapi pertanyaannya tetap menggantung: Jika algoritma gagal memprediksi cedera atau penurunan mental pemain, siapa yang disalahkan? Anda tidak bisa memecat spreadsheet. Pada akhirnya, sepak bola adalah tentang emosi yang tidak rasional. Dan sejauh ini, Wall Street belum menemukan rumus untuk menghitung harga sebuah tangisan kebahagiaan di San Siro.

TR
Taufik Rahman

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Olahraga. Bersemangat menganalisis tren terkini.