Masyarakat

Candu Skor Hijau: Mengapa Algoritma TKA Menjual Ilusi, Bukan Kompetensi

Jangan tertipu oleh grafik berwarna hijau neon itu. Saat ribuan calon mahasiswa menggantungkan nasib pada prediksi AI aplikasi bimbel, kita perlu bertanya: apakah ini persiapan intelektual, atau sekadar kasino akademik?

SA
Siti Aminah
10 Februari 2026 pukul 02.013 menit baca
Candu Skor Hijau: Mengapa Algoritma TKA Menjual Ilusi, Bukan Kompetensi

Ada aroma kepanikan yang khas setiap menjelang musim ujian masuk universitas. Dulu, baunya seperti kertas fotokopi buram dan pensil 2B. Sekarang? Baunya seperti server yang kepanasan dan notifikasi cemas di layar ponsel pintar. Kita sedang menyaksikan pergeseran tektonik dalam cara kita mendefinisikan "kesiapan".

Ribuan siswa (mungkin jutaan, jika kita menghitung mereka yang hanya memantau dari pinggir lapangan) kini menyerahkan otoritas penilaian diri mereka pada sebuah algoritma. "Peluang lolos kamu: 87%". Angka itu muncul di layar, berkilau, menggoda. Tapi sebagai analis yang menolak menelan mentah-mentah janji manis EdTech, saya harus memecahkan gelembung ini: Anda mungkin tidak sedang belajar. Anda sedang bermain game.

"Kita telah membiarkan pendidikan bermutasi dari pencarian pemahaman menjadi serangkaian trik teknis untuk mengelabui mesin penilai. Ini bukan belajar, ini peretasan pola."

Obsesi pada Metrik Hampa

Masalah mendasarnya bukan pada teknologinya. Simulasi itu berguna untuk manajemen waktu (siapa yang tidak butuh latihan duduk diam selama 3 jam?). Masalahnya adalah validasi emosional yang dijual bersamanya. Aplikasi-aplikasi ini, dengan segala kecanggihan 'Big Data' yang mereka klaim, seringkali beroperasi dengan logika yang meragukan.

Mereka mengumpulkan data historis, tentu saja. Tapi memprediksi kelulusan UTBK atau TKA (Tes Kemampuan Akademik) berdasarkan Try Out internal adalah seperti memprediksi cuaca tahun depan berdasarkan suhu kulkas Anda hari ini. Variabelnya terlalu kacau. Tingkat kesulitan soal asli yang dirahasiakan panitia seleksi nasional, kondisi psikologis hari H, hingga 'teori respon butir' (IRT) yang kompleksitasnya sering disederhanakan oleh aplikasi pihak ketiga demi angka persentase yang mudah dicerna.

Apakah Anda benar-benar paham konsep ekonomi makro, atau Anda hanya hafal bahwa jika ada kurva X dan Y, jawabannya biasanya C? Algoritma tidak peduli. Selama Anda mengklik C, dopamin dilepaskan. Skor hijau muncul. Ilusi kompetensi terbentuk.

👀 Mengapa Siswa Pintar Sering Gagal di Hari H?

Ini paradoks klasik. Siswa yang terlalu bergantung pada simulasi sering mengalami "Overfitting" (meminjam istilah Machine Learning). Otak mereka sangat terlatih untuk mengenali pola soal dari satu penyedia Try Out tertentu, tetapi gagal beradaptasi ketika menghadapi soal asli yang memiliki nuansa bahasa atau logika sedikit berbeda. Mereka menjadi ahli dalam simulasi, bukan ahli dalam materi.

Bisnis Ketakutan

Mari bicara jujur tentang uang. Ketidakpastian adalah komoditas paling laris di pasar pendidikan. Dengan memberi label "Prediksi AI", perusahaan bimbingan belajar dapat memonetisasi kecemasan Gen Z (dan orang tua mereka). Fitur premium untuk melihat "peluang kelulusan di jurusan X" adalah pajak yang dikenakan atas rasa takut gagal.

Kita sedang melatih satu generasi untuk percaya bahwa kesuksesan adalah sesuatu yang bisa dihitung presisi sebelum pertarungan dimulai. Padahal, realitas pasar kerja—dan kehidupan—jauh lebih berantakan. Tidak ada bilah persentase di atas kepala bos Anda saat Anda melakukan presentasi.

Jadi, jika layar ponsel Anda mengatakan peluang Anda 92%, matikan ponsel itu. Rasa aman palsu adalah musuh yang lebih berbahaya daripada ketidaktahuan. Bukalah buku teks, debatkan konsep dengan teman, dan berhentilah mencoba mengalahkan algoritma. Kalahkan materinya.

SA
Siti Aminah

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Masyarakat. Bersemangat menganalisis tren terkini.