Masyarakat

Ekonomi Ketakutan: Siapa yang Cuan dari Peringatan Dini BMKG?

Notifikasi berbunyi. Jantung berdegup. Di balik grafik curah hujan yang merah membara, terdapat mesin uang yang bekerja dalam diam. Peringatan dini bukan sekadar soal keselamatan; ini adalah komoditas.

SA
Siti Aminah
18 Januari 2026 pukul 15.013 menit baca
Ekonomi Ketakutan: Siapa yang Cuan dari Peringatan Dini BMKG?

Langit Jakarta belum juga gelap, tapi grup WhatsApp keluarga sudah lebih dulu mendung. Sebuah tangkapan layar beredar: peta merah menyala dari BMKG, disertai narasi kiamat kecil tentang "badai ekstrem" yang akan meluluhlantakkan Jabodetabek. Tante Anda panik membeli stok mie instan. Teman kantor membatalkan janji temu. Dan di suatu tempat di gedung perkantoran kaca, seorang eksekutif media digital tersenyum melihat grafik traffic situsnya melesat vertikal.

Selamat datang di era di mana meteorologi bukan lagi sekadar sains atmosfer, melainkan bensin bagi mesin ekonomi ketakutan.

Apakah cuaca memang semakin ekstrem? Data menunjukkan ya (terima kasih, perubahan iklim). Namun, apakah respons kita proporsional? Di sinilah skeptisisme harus dinyalakan. Ada garis tipis antara kewaspadaan publik dan eksploitasi kecemasan demi profit.

Ketakutan adalah mata uang yang nilainya tidak pernah mengalami inflasi. Semakin takut Anda, semakin 'klik' Anda, semakin besar anggaran yang disetujui tanpa pertanyaan.

Algoritma Panik: Dari Data Mentah ke Judul Berdarah

Mari kita bedah rantai makanannya. BMKG, lembaga negara yang (secara teori) netral, merilis data. Isinya teknis: "Potensi hujan lebat disertai kilat durasi singkat". Membosankan. Tidak ada yang akan membagikan itu di Instagram Story.

Lalu, masuklah para aggregator berita dan influencer "info warga". Kalimat teknis tadi diamputasi, diberi bumbu penyedap rasa, dan disajikan kembali sebagai horor. Lihat perbandingannya:

Rilis Resmi BMKGJudul Portal Berita / Medsos
"Potensi banjir pesisir (rob) di utara Jakarta.""JAKARTA AKAN TENGGELAM? Warga Diminta Waspada Malaikat Maut Air!"
"Suhu udara maksimum mencapai 36°C.""NERAKA BOCOR! Aspal Bisa Meleleh, Jangan Keluar Rumah!"
"Waspada potensi angin kencang.""BADAI RAKSASA MENGINTAI: Lihat Prediksi Mengerikan Ini."

Perbedaan narasi ini bukan ketidaksengajaan. Ini desain. Setiap klik pada judul sensasional itu dikonversi menjadi ad revenue. Kita, publik yang cemas, adalah tambang emasnya. Kita membagikan tautan itu dengan niat baik ("biar waspada"), padahal kita sedang menjadi tenaga pemasaran gratis bagi portal berita yang menjual kepanikan.

Kambing Hitam Sempurna untuk Tata Kota yang Gagal

Tapi uang receh dari iklan digital hanyalah puncak gunung es. Mari bicara angka besar.

Istilah "Cuaca Ekstrem" telah menjadi kartu bebas penjara (get out of jail free card) bagi para pengambil kebijakan dan pengembang properti. Banjir merendam kawasan elit? "Ini karena curah hujan ekstrem di luar prediksi BMKG," kata juru bicara balai kota. (Tentu saja, mereka lupa menyebutkan bahwa daerah resapan air di hulu baru saja disulap menjadi kompleks vila beton atau mal baru).

Dengan melabeli setiap bencana sebagai "anomali cuaca", akuntabilitas menguap. Siapa yang bisa menuntut awan Cumulonimbus ke pengadilan? Tidak ada. Ini membebaskan kontraktor dari tuduhan drainase buruk dan membebaskan politisi dari janji penanggulangan banjir yang tak pernah ditepati.

Lebih jauh lagi, label "darurat iklim" membuka keran anggaran fantastis. Proyek-proyek mitigasi bencana seringkali dikebut dengan penunjukan langsung atas nama urgensi. Apakah tanggul raksasa itu benar-benar solusi, atau hanya proyek infrastruktur yang kebetulan memiliki margin keuntungan tebal bagi kroni terdekat?

Komodifikasi Payung (Metaforis dan Harfiah)

Industri asuransi juga diam-diam bertepuk tangan. Premi asuransi properti dan kendaraan merangkak naik seiring dengan frekuensi berita tentang badai. Narasi "ketidakpastian iklim" adalah alat closing penjualan yang paling efektif. Anda tidak membeli polis karena Anda butuh, Anda membelinya karena Anda ditakut-takuti oleh grafik berwarna merah darah yang Anda lihat di Twitter pagi tadi.

Jadi, lain kali notifikasi BMKG muncul di layar ponsel Anda, ambil jeda tiga detik. Baca data aslinya, bukan interpretasi liarnya. Hujan memang akan turun, badai mungkin akan datang. Tapi tanyakan pada diri sendiri: apakah kecemasan yang saya rasakan ini murni insting bertahan hidup, atau produk yang sedang dijual kepada saya?

Cuaca mungkin di tangan Tuhan, tapi narasi tentangnya ada di tangan mereka yang menghitung laba.

SA
Siti Aminah

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Masyarakat. Bersemangat menganalisis tren terkini.