Olahraga

FC Barcelona: Ilusi Kejayaan di Atas Tumpukan Utang?

Di lapangan, anak-anak ajaib La Masia menyihir dunia. Namun di ruang direksi, angka-angka merah menjerit lebih keras daripada sorakan Camp Nou. Apakah kita sedang menyaksikan kebangkitan raksasa, atau sekadar tarian terakhir sebelum kebangkrutan?

TR
Taufik Rahman
3 Februari 2026 pukul 23.053 menit baca
FC Barcelona: Ilusi Kejayaan di Atas Tumpukan Utang?

Mari kita berhenti sejenak dari euforia Lamine Yamal. Ya, bocah itu fenomenal. Ya, Hansi Flick telah membawa disiplin Jerman yang sangat dibutuhkan ke Katalunya. Tapi jika Anda melihat melampaui dribble memukau dan skor akhir pertandingan, ada pemandangan horor yang sedang berlangsung di neraca keuangan FC Barcelona.

Joan Laporta, presiden yang lebih sering terlihat seperti pesulap daripada akuntan, terus melempar narasi optimisme. "Barca sudah kembali," katanya. Benarkah? Atau ini hanyalah skema kick the can down the road—menendang kaleng masalah ke masa depan—yang paling berisiko dalam sejarah sepak bola modern?

Akrobatik Finansial atau Bunuh Diri Perlahan?

Kita semua ingat saga "tuas ekonomi" (palancas). Menjual aset masa depan untuk membeli Robert Lewandowski dan Raphinha terasa seperti menggadaikan rumah demi membeli mobil sport. Memang terlihat keren di jalan raya, tapi Anda tidur di mana nanti malam?

Realitasnya brutal. Klub ini beroperasi dengan margin kesalahan yang setipis kertas. Gaji pemain masih menjadi beban raksasa, dan aturan Financial Fair Play La Liga—yang diawasi oleh Javier Tebas dengan ketelitian seorang auditor forensik—terus mencekik leher manajemen. Setiap jendela transfer menjadi drama telenovela: bisakah kita mendaftarkan pemain baru? Siapa yang harus dikorbankan?

Narasi Klub (Versi Laporta)Realitas Ekonomi (Analisis Skeptis)
"Stadion baru akan mencetak uang."Utang konstruksi Espai Barça mencapai €1,45 miliar. Pembayaran bunga akan memakan profit selama dekade mendatang.
"La Masia adalah solusi gratis."Mengandalkan remaja 17 tahun untuk menyelamatkan institusi miliaran euro adalah perjudian fisik dan mental yang tidak etis.
"Sponsor Nike & Spotify menyelamatkan kita."Kesepakatan itu hanya menutup lubang operasional jangka pendek, bukan membayar utang pokok jangka panjang.

Espai Barça: Kuburan atau Istana?

Proyek renovasi Camp Nou adalah pertaruhan terbesar. Idenya masuk akal: stadion modern menghasilkan pendapatan modern. Tapi bermain di Montjuïc sementara waktu telah menggerus pendapatan tiket secara signifikan. Wisatawan menyukainya, tapi para socio (anggota klub) lokal? Mereka enggan mendaki bukit ajaib itu. Absennya atmosfer intimidasi Camp Nou bukan hanya masalah sentimen; itu masalah kas.

Dan mari bicara tentang Goldman Sachs dan investor lainnya. Mereka tidak memberikan miliaran dolar karena cinta pada warna Blaugrana. Mereka ingin pengembalian investasi. Jika proyeksi pendapatan meleset sedikit saja, siapa yang sebenarnya memiliki Barcelona di tahun 2030? Para anggota, atau konsorsium bank Amerika?

"Model kepemilikan socio adalah sakral di Barcelona. Namun, setiap euro utang baru yang ditandatangani membawa klub ini selangkah lebih dekat menuju model SAD (Perusahaan Terbatas Olahraga) yang ditakuti. Privatisasi bukan lagi tabu; itu adalah hantu yang duduk di sudut ruangan rapat."

Perisai Bernama La Masia

Inilah bagian yang paling sinis. Manajemen bersembunyi di balik punggung anak-anak kecil. Ketika Pau Cubarsí atau Gavi bermain heroik, itu menutupi fakta bahwa klub tidak mampu membeli bek kelas dunia atau gelandang matang di puncak karirnya. Mereka terpaksa menggunakan akademi, bukan semata-mata karena filosofi romantis, tapi karena dompet yang kosong.

Apakah adil membebankan keselamatan ekonomi entitas multinasional di pundak anak-anak yang bahkan belum memiliki SIM? (Mungkin Yamal sudah punya sekarang, tapi Anda mengerti maksudnya). Cedera panjang yang menimpa Gavi atau Pedri di masa lalu bukanlah kebetulan; itu adalah hasil dari eksploitasi keharusan.

Jadi, nikmatilah permainannya. Barcelona di bawah Flick memang menyenangkan untuk ditonton. Tapi jangan pernah lupa: di balik setiap gol, ada kalkulator yang sedang menghitung mundur.

TR
Taufik Rahman

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Olahraga. Bersemangat menganalisis tren terkini.