Gerhana: Ketika Naga Pemakan Matahari Digantikan Konspirasi TikTok
Dulu, kegelapan sesaat di siang hari bisa menghentikan perang. Hari ini? Ia memicu perang komentar. Bagaimana fenomena astronomi paling elegan berubah menjadi medan pertempuran antara fakta orbital dan algoritma skeptisisme.

Bayangkan Anda berada di tepian Sungai Halys, Turki modern, pada tanggal 28 Mei 585 Sebelum Masehi. Pasukan Media dan Lidia sedang bersiap saling memenggal kepala. Adrenalin memuncak, pedang terhunus. Tiba-tiba, langit padam. Siang menjadi malam dalam hitungan detik. Keheningan yang mencekam turun menyelimuti medan perang. Para prajurit, yang yakin bahwa para dewa sedang murka besar, menjatuhkan senjata mereka. Perang berhenti. Gencatan senjata ditandatangani.
Itu adalah kekuatan narasi kuno. Ketakutan yang menyatukan.
Sekarang, putar waktu ke abad ke-21. Ketika gerhana total melintasi Amerika Utara atau sebagian Indonesia, apakah kita berhenti sejenak untuk merenungi kebesaran kosmos? Sebagian ya. Tapi sebagian lagi sibuk mengetik di kolom komentar bahwa NASA sedang mengganti baterai matahari, atau bahwa bayangan bulan itu 'terlalu datar' untuk sebuah bola. Kita telah bergerak dari ketakutan mistis menuju skeptisisme digital yang, sejujurnya, agak menggelikan.
Dulu, manusia menatap langit dan takut akan kemarahan Dewa. Hari ini, kita menatap layar dan takut dibohongi oleh 'elit global'. Ironinya, ketakutan kedua justru membuat kita lebih buta daripada yang pertama.
Mitos sebagai Mekanisme Bertahan Hidup
Mari kita bersikap adil pada leluhur kita. Tanpa teleskop James Webb atau pemahaman tentang mekanika orbital, melihat matahari dimakan kegelapan adalah teror murni. Di Tiongkok kuno, seekor naga langit sedang melahap surya—maka mereka memukul panci dan wajan untuk menakutinya (dan hei, itu berhasil kan? Mataharinya kembali). Di Jawa, Batara Kala yang dendam mencoba menelan sumber kehidupan itu.
Cerita-cerita ini bukan sekadar takhayul bodoh; mereka adalah cara otak manusia purba mencoba merasionalisasi anomali. Itu adalah 'sains' pada zamannya: observasi (gelap), hipotesis (ada monster), eksperimen (buat suara berisik), hasil (terang kembali).
Saat Sains Menjadi Membosankan (Bagi Sebagian Orang)
Masalah dengan sains modern adalah ia terlalu presisi. Kita bisa memprediksi gerhana hingga ke detik, ratusan tahun ke depan. Tidak ada lagi kejutan. Tidak ada lagi naga. Bagi generasi yang dibesarkan oleh dopamin algoritma media sosial, kepastian matematika ini... membosankan.
Di sinilah era post-truth masuk dan mengacaukan pesta. Di era di mana 'perasaan saya' dianggap setara dengan 'data Anda', gerhana menjadi target empuk. Mengapa? Karena gerhana adalah bukti visual paling telanjang bahwa kita hidup di atas bola yang berputar mengelilingi bola api raksasa. Jika Anda ingin menjual narasi bahwa Bumi itu datar atau bahwa sains adalah konspirasi, Anda harus mendiskreditkan gerhana.
đź‘€ Mengapa Gerhana Jadi Musuh Teori Konspirasi?
Sederhana: Geometri. Bayangan bulat Bumi pada Bulan saat gerhana bulan, atau jalur totalitas yang melengkung saat gerhana matahari, adalah mimpi buruk bagi model Bumi Datar. Alih-alih merevisi teori mereka, penganut konspirasi (seringkali didorong oleh algoritma yang menyukai interaksi tinggi) memilih untuk menuduh fenomena itu sendiri sebagai CGI, hologram, atau proyeksi pemerintah. Lebih mudah menyangkal realitas daripada mengakui salah hitung.
Tantangan Nyata: Literasi di Tengah Kebisingan
Bahaya sebenarnya bukan pada mereka yang percaya bumi datar—jumlah mereka sebenarnya kecil tapi berisik. Bahayanya adalah erosi kepercayaan publik terhadap metodologi ilmiah. Ketika seorang astrofisikawan menjelaskan saros (siklus gerhana) dan disahut dengan 'Ah, itu kan kata buku sekolahmu', kita memiliki masalah budaya, bukan masalah sains.
Gerhana di era modern bukan lagi sekadar peristiwa langit; ia adalah ujian literasi. Ia memaksa kita bertanya: Apakah kita masih mampu membedakan antara fenomena alam yang objektif dan narasi buatan manusia yang subjektif? Ataukah kita akan membiarkan bayangan ketidaktahuan menutupi akal sehat kita, lebih lama dari durasi gerhana itu sendiri?
Saat bayangan bulan berlalu dan cahaya kembali, satu hal tetap pasti: alam semesta tidak peduli dengan feed TikTok Anda. Ia akan terus berputar, presisi, dingin, dan indah, menanti kapan saja kita siap untuk benar-benar melihat lagi.

