Tekno

Hantu dalam Mesin: Bisakah Kode Biner Mengukur Jiwa Tim?

Di era di mana setiap detak jantung terukur, manajer korporat kini berambisi mengaudit hal yang tak terlihat: chemistry tim. Namun, ketika sentimen manusia direduksi menjadi poin data, apakah kita sedang membangun tempat kerja yang lebih baik atau sekadar penjara panoptikon digital yang dihiasi emoji?

EP
Eko Pratama
23 Januari 2026 pukul 14.043 menit baca
Hantu dalam Mesin: Bisakah Kode Biner Mengukur Jiwa Tim?

⚡ The Essentials

Pasar analitik SDM (People Analytics) sedang meledak, menjanjikan kemampuan untuk mengukur "kesehatan" tim melalui metadata email, Slack, dan survei mikro. Namun, para skeptis memperingatkan tentang reduksionisme data: algoritma sering gagal membedakan antara kolaborasi yang sehat dan aktivitas yang sekadar sibuk, serta berisiko menciptakan budaya "positivitas toksik" di mana karyawan bermain peran demi memuaskan dasbor manajerial.

Ada sebuah fantasi yang sedang laku keras di Silicon Valley saat ini. Fantasi bahwa jika kita mengumpulkan cukup banyak data—setiap pesan Slack, durasi panggilan Zoom, jeda waktu balasan email—kita akhirnya bisa memecahkan kode paling rumit dalam sejarah manajemen: Manusia.

Perusahaan teknologi HR menjanjikan manajer "visi sinar-X" ke dalam dinamika tim mereka. Mereka menyebutnya Organizational Network Analysis (ONA) atau analisis sentimen berbasis AI. Saya menyebutnya sebagai upaya putus asa untuk mengukur apa yang sebenarnya tak terukur. (Dan ya, ini sedikit menakutkan).

Ilusi Kendali Lewat Angka

Mari kita jujur sejenak. Manajer menyukai dasbor. Grafik lingkaran yang rapi memberikan ilusi bahwa kekacauan emosional yang terjadi di lantai produksi (atau ruang server) sebenarnya terkendali. Tapi inilah masalahnya: algoritma adalah sosiopat fungsional. Mereka sangat cerdas dalam pola, namun buta total dalam empati.

Bayangkan sebuah AI memindai komunikasi tim Anda. Ia melihat lonjakan pesan antara dua departemen pada pukul 2 pagi. Dasbor Anda menyala hijau: "Kolaborasi Tinggi!". Realitasnya? Kedua departemen itu sedang panik saling menyalahkan karena server baru saja meledak. Algoritma melihat konektivitas; manusia merasakan kepanikan.

Sinyal DigitalInterpretasi AlgoritmaRealitas Manusia (Seringkali)
Respon Slack InstanKeterlibatan Tinggi (Engaged)Ketakutan (Presenteeism), Takut dianggap malas
Sedikit Email TerkirimIsolasi / Kinerja RendahFokus mendalam (Deep Work), Efisiensi tinggi
Banyak Emoji PositifMoral Tim TinggiSarkasme, atau "Positivitas Toksik" terpaksa
Jaringan Komunikasi LuasInfluencer UtamaTukang gosip kantor, atau delegator yang buruk

Sarkasme: Musuh Bebuyutan AI

Bahasa manusia itu licin. Kita mengatakan satu hal untuk berarti sebaliknya. Kita menggunakan humor sebagai mekanisme pertahanan. Kita diam bukan karena setuju, tapi karena lelah berdebat.

Sistem Natural Language Processing (NLP) tercanggih sekalipun masih berjuang membedakan antara "Kerja bagus!" (tulus) dan "Kerja bagus..." (ketika diucapkan setelah seseorang menghapus database produksi). Tanpa konteks nada suara, tatapan mata, atau sejarah hubungan antar-personal, data hanyalah deretan teks kosong.

"Kita mencoba menangkap angin dengan jaring kupu-kupu. Anda mungkin mendapatkan sedikit udara, tapi Anda tidak akan pernah menangkap badainya."

Mengandalkan alat ini berisiko menciptakan apa yang disebut Goodhart’s Law: Ketika ukuran menjadi target, ia tidak lagi menjadi ukuran yang baik. Jika karyawan tahu 'semangat' mereka dinilai dari seberapa sering mereka menggunakan kata-kata positif di saluran publik, apa yang akan terjadi? Anda akan mendapatkan saluran Slack yang penuh dengan sorak-sorai palsu seperti sekte, sementara masalah sebenarnya terkubur di pesan pribadi (atau lebih buruk, di grup WhatsApp rahasia yang tidak bisa diakses perusahaan).

Apa yang Hilang dari Piksel?

Google pernah melakukan penelitian masif bernama Project Aristotle untuk menemukan resep tim sempurna. Kesimpulannya? Bukan IQ gabungan, bukan latar belakang pendidikan. Jawabannya adalah Keamanan Psikologis.

Bisakah algoritma mengukur rasa aman? Mungkin. Tapi rasa aman seringkali termanifestasi dalam hal-hal yang tidak menghasilkan data: keberanian untuk mengajukan pertanyaan bodoh tanpa takut dicemooh, keheningan yang nyaman saat rapat, atau tatapan saling mengerti saat bos melontarkan ide buruk.

Teknologi ini, seberapa pun canggihnya, tetaplah sebuah peta, bukan wilayahnya. Menggunakannya sebagai satu-satunya kompas bukan hanya naif, tapi berbahaya. Karena pada akhirnya, semangat tim (team spirit) bukanlah variabel yang bisa dioptimalkan dengan machine learning; ia adalah produk sampingan dari kepercayaan yang dibangun secara analog, lambat, dan seringkali tidak efisien.

Jadi, sebelum Anda membeli lisensi perangkat lunak analitik seharga ribuan dolar, tanyakan pada diri Anda: Apakah Anda membutuhkan lebih banyak data, atau Anda hanya perlu mulai benar-benar mendengarkan orang-orang Anda?

EP
Eko Pratama

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Tekno. Bersemangat menganalisis tren terkini.