Masyarakat

Lari Bukan Lagi Soal Kaki: Menguliti Industri di Balik 'FOMO' Lari Ibukota

Sejak kapan olahraga paling demokratis di dunia berubah menjadi kontes 'outfit' seharga motor bekas? Sebuah tinjauan sinis tentang bagaimana industri menyandera dopamin kita.

SA
Siti Aminah
15 Januari 2026 pukul 14.313 menit baca
Lari Bukan Lagi Soal Kaki: Menguliti Industri di Balik 'FOMO' Lari Ibukota

Cobalah berdiri di pinggiran Sudirman atau kawasan SCBD saat Minggu pagi (atau, yah, 'Car Free Day' yang kini lebih mirip 'Brand Free Day'). Apa yang Anda lihat? Bukan sekadar sekumpulan manusia yang mencoba menjaga kesehatan kardiovaskular. Tidak. Anda sedang menyaksikan fashion show terselubung yang bergerak dengan kecepatan 6:00 min/km.

Narasi lama mengatakan lari adalah olahraga termurah. Anda hanya butuh sepasang sepatu dan niat. Tapi narasi itu sudah mati, dikubur dalam-dalam oleh mesin pemasaran yang brilian sekaligus mengerikan. Hari ini, lari adalah tentang validasi sosial, dan tiket masuknya tidak murah.

Inflasi Gaya Hidup Berkedok Kesehatan

Mari kita jujur sebentar. Apakah seorang pelari rekreasional yang hanya menargetkan 5K benar-benar membutuhkan sepatu dengan pelat karbon seharga tiga juta rupiah? Secara biomekanik, mungkin tidak. Tapi secara sosiologis? Sangat butuh.

Industri olahraga telah berhasil menanamkan rasa insecurity yang halus: jika Anda tidak memakai perlengkapan 'pro', Anda bukan pelari serius. Anda hanya 'jogging'. Dan di dunia yang terobsesi dengan pelabelan diri, menjadi sekadar 'jogger' adalah penghinaan.

Lihatlah perbandingan di bawah ini. Ini bukan sekadar angka, ini adalah bukti betapa jauhnya kita tersesat dari esensi 'bergerak'.

ItemEra 2010-an (Fungsional)Era 2024 (Skena Urban)
SepatuRp 800.000 (Awet)Rp 3.500.000 (Carbon Plate)
PakaianKaos Partai/Event BekasRp 2.000.000 (Singlet Aeroswift + Compression)
AksesorisStopwatch CasioRp 5.000.000+ (Smartwatch + Oakley + Vest)
MotivasiKeringatKonten Reels & Kudos Strava

Jebakan Validasi Digital

Kita tidak bisa membahas fenomena ini tanpa menunjuk hidung pelakunya: gamifikasi sosial. Aplikasi pelacak aktivitas bukan lagi sekadar alat ukur; mereka adalah media sosial baru. "If it's not on Strava, it didn't happen." Pernah dengar itu? Kalimat yang terdengar bercanda, tapi dipraktikkan seperti dogma agama.

Tekanan untuk memposting 'Pace' (kecepatan lari) menciptakan kompetisi semu yang berbahaya. Orang-orang memaksakan diri melampaui batas fisik mereka bukan untuk kebugaran, tapi agar tangkapan layar di Instagram Story mereka terlihat mengesankan. Kita melihat lonjakan cedera overuse pada pelari pemula yang dimanipulasi oleh algoritma untuk merasa mereka harus berlatih layaknya atlet Olimpiade.

"Lari adalah olahraga termurah, sampai kapitalisme menemukan cara jenius untuk menjual 'rasa sakit' sebagai estetika premium."

Komunitas atau Kultus Eksklusif?

Di sinilah sisi gelapnya. Komunitas lari urban (running crews) sering kali dibungkus dengan narasi inklusivitas. "Semua orang boleh bergabung!" teriak poster mereka. Namun, cobalah datang dengan sepatu kets biasa dan kaos katun ke salah satu sesi lari malam di Jakarta Selatan. Anda mungkin tidak diusir, tapi tatapan mata yang memindai merek pakaian Anda dari atas ke bawah berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Kesehatan telah dikooptasi menjadi penanda kelas. Menjadi sehat dan bugar kini adalah simbol status bahwa Anda memiliki dua hal paling mahal di dunia modern: waktu luang dan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income).

Apakah ini berarti kita harus berhenti lari? Tentu tidak. Lari tetaplah obat ajaib bagi tubuh dan pikiran. Tapi mungkin sudah waktunya kita berlari untuk diri sendiri lagi, bukan untuk algoritma, bukan untuk validasi kru, dan jelas bukan untuk membenarkan pembelian aksesoris seharga UMR yang kegunaannya dipertanyakan.

Lepaskan jam tangan pintar itu sesekali. Lupakan pace. Rasakan saja paru-paru Anda bekerja. Itu gratis, dan itulah satu-satunya hal yang nyata.

SA
Siti Aminah

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Masyarakat. Bersemangat menganalisis tren terkini.