Ekonomi

Moji TV: Eksperimen Mahal Emtek dan Ilusi Kebebasan Menonton

Di balik warna-warni cerah dan logo yang 'Gen Z banget', Moji TV bukan sekadar saluran televisi. Ia adalah corong raksasa untuk ekosistem digital yang lapar data. Selamat datang di era di mana tontonan gratis hanyalah umpan.

AW
Agus Wijaya
16 Januari 2026 pukul 13.053 menit baca
Moji TV: Eksperimen Mahal Emtek dan Ilusi Kebebasan Menonton

Anda mungkin ingat O Channel. Saluran yang dulu identik dengan tayangan home shopping panci anti-lengket dan gaya hidup Jakarta yang agak niche. Lupakan itu. O Channel sudah mati, dikubur di bawah tumpukan ambisi korporat, dan bangkit kembali sebagai Moji. Tapi, jika Anda berpikir ini hanya sekadar ganti baju agar terlihat relevan di mata anak muda, Anda terlalu naif. (Atau mungkin Anda terlalu sering menelan siaran pers mentah-mentah).

Sebagai seorang analis yang cukup lama mengamati pergerakan modal di industri media, saya mencium bau strategi 'bakar uang' yang jauh lebih canggih di sini. Moji bukanlah tujuan akhir. Ia adalah papan reklame berjalan.

Saluran TV atau 'Sales' Aplikasi?

Mari kita bedah realitasnya. Emtek, konglomerat di balik Moji, tidak sedang berusaha memenangkan perang rating televisi konvensional melawan raksasa sinetron. Itu pertarungan usang. Moji didesain sebagai funnel—sebuah corong.

Perhatikan pola tayangannya. Mereka menayangkan Liga Inggris atau Voli (VNL), tetapi seringkali hanya pertandingan 'tier 2' atau cuplikan yang menggoda. Di mana daging utamanya? Tentu saja di Vidio. Moji bertugas menciptakan rasa lapar, dan aplikasi berbayar mereka yang akan menjual makanannya. Ini adalah kapitalisme platform yang menyamar sebagai hiburan publik.

"Televisi free-to-air hari ini hanyalah etalase toko gratis. Barang bagusnya? Ada di gudang belakang yang bernama layanan streaming berbayar."

Transformasi Identitas: Sebuah Komparasi Sinis

Perubahan dari O Channel ke Moji adalah studi kasus brutal tentang bagaimana data mengarahkan konten. Mereka membuang ibu-ibu rumah tangga demi mengejar demografi yang bahkan jarang menyalakan TV: Gen Z. Apakah berhasil? Angka di atas kertas mungkin naik, tapi loyalitas adalah cerita lain.

ParameterEra O Channel (Masa Lalu)Era Moji (Sekarang)
Target AudiensWanita, Lifestyle JakartaGen Z, Pecinta Olahraga
Komoditas UtamaHome Shopping (Lejel, dkk)Hak Siar Olahraga Premium
Fungsi EkosistemSaluran Mandiri (Stand-alone)Umpan Berlangganan Vidio

Algoritma vs. Jadwal Tayang

Di sinilah ironinya. Moji mencoba mengadopsi estetika TikTok—cepat, penuh warna, grafis yang pop—ke dalam medium yang kaku seperti televisi linear. Mereka bertaruh bahwa mereka bisa menahan jempol Anda agar tidak mengganti saluran (atau lebih parah, beralih ke ponsel).

Tapi ada satu musuh yang tak terlihat: algoritma personal. Televisi menyajikan 'satu menu untuk semua', sementara ponsel di tangan penonton menyajikan 'menu yang Anda sukai'. Pertarungan ini tidak seimbang. Moji mencoba melawan algoritma YouTube dan TikTok dengan kurasi manual yang dibungkus modal besar hak siar olahraga.

Emtek menggelontorkan dana triliunan untuk hak siar bukan karena mereka cinta olahraga. Itu adalah satu-satunya konten yang harus ditonton live. Anda tidak bisa menunda menonton final Piala Dunia atau Premier League (kecuali Anda suka spoiler). Itulah satu-satunya senjata yang tersisa bagi TV linear untuk melawan hegemoni algoritma media sosial.

Jadi, saat Anda menyalakan Moji nanti malam, sadarilah satu hal: Anda tidak sedang menonton TV. Anda sedang diprospek untuk membeli paket platinum bulan depan.

AW
Agus Wijaya

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Ekonomi. Bersemangat menganalisis tren terkini.