Olahraga

ONIC Esports: Saat Trofi Hanyalah Pemanis di Atas Kue Bisnis Raksasa

Lupakan KDA dan rotasi map. Di balik sorak-sorai "Land of Dawn", ada mesin pencetak uang yang bekerja dalam diam. Kami ajak Anda menyelinap ke belakang panggung untuk melihat realitas bisnis yang tak tertangkap kamera live stream.

TR
Taufik Rahman
16 Januari 2026 pukul 12.313 menit baca
ONIC Esports: Saat Trofi Hanyalah Pemanis di Atas Kue Bisnis Raksasa

Kalian pikir ONIC, atau tim esports papan atas lainnya, hidup dari uang hadiah turnamen? Lucu. Jika kalian duduk di ruangan VIP—tempat di mana jersey digantikan oleh jas—kalian akan mendengar percakapan yang sangat berbeda. MPL (Mobile Legends Professional League) hanyalah etalase toko. Barang dagangan sebenarnya tersimpan rapi di gudang belakang.

Saya pernah mendengar seorang eksekutif industri ini berbisik (sambil menenggak minuman yang harganya setara UMR Jakarta), "Juara itu bagus untuk ego, tapi engagement adalah yang membayar tagihan listrik."

Mari kita bongkar algoritma 'cuan' yang membuat sang Landak Kuning tetap berduri tajam, bahkan ketika musim kompetisi sedang libur.

"Di ekosistem ini, pemain pro adalah aset dengan masa kedaluwarsa yang cepat. Nilai valuasi tim tidak dihitung dari jumlah piala di lemari, tapi dari seberapa loyal 'dompet' basis penggemar mereka."

Transformasi dari Atlet ke Aset Digital

Pola pikir konvensional melihat ONIC sebagai tim olahraga. Salah besar. ONIC beroperasi lebih mirip agensi talenta K-Pop (seperti SM atau HYBE) daripada klub sepak bola. Perhatikan bagaimana mereka memperlakukan roster mereka. Kairi bukan sekadar Jungler; dia adalah IP (Intellectual Property) berjalan.

Setiap klip TikTok, setiap sesi live streaming, dan setiap drama kecil di media sosial dikonversi menjadi data untuk disodorkan ke sponsor. Mengapa logo di jersey mereka begitu padat? Karena sponsor tahu, "Sonic" (sebutan fans ONIC) tidak hanya menonton pertandingan; mereka membeli apa yang idola mereka pakai. Fanatisme ini bukan kebetulan, ini direkayasa.

👀 Mengapa ONIC Punya Begitu Banyak Brand Ambassador Cantik?

Ini bukan sekadar "pemanis buatan". Ini adalah strategi diversifikasi risiko yang brilian. Jika tim utama kalah beruntun atau performa menurun (yang pasti terjadi dalam olahraga), traffic dan eksposur merek tetap terjaga lewat para Brand Ambassador (BA) ini. Para BA—yang seringkali memiliki pengikut jutaan di Instagram/TikTok—menjaga agar 'lampu tetap menyala' dan interaksi media sosial tetap tinggi, terlepas dari hasil pertandingan. Mereka adalah jaring pengaman bisnis.

Matematika Merch: Margin di Atas Skill

Pernah mencoba menghitung berapa banyak jersey "home" dan "away" yang terjual setiap musim? Angkanya fantastis. Dalam model bisnis ini, kemenangan di panggung MPL berfungsi sebagai katalis pemasaran untuk mendorong penjualan merchandise.

Biaya produksi jersey mungkin hanya sekian persen dari harga jual, sisanya adalah margin murni yang masuk ke kas organisasi. Ini adalah pendapatan pasif yang tidak bergantung pada apakah server game sedang maintenance atau tidak. Mereka menjual identitas, bukan kain polyester.

Dan jangan lupa soal ekosistem kreator. ONIC tidak hanya merekrut pemain, mereka membangun jaringan pembuat konten. Mengapa? Karena algoritma YouTube dan TikTok lebih ramah pada konten hiburan daripada analisis gameplay yang berat. Dengan menguasai kedua sisi—prestasi kompetitif dan hiburan kasual—mereka menciptakan monopoli perhatian. Apakah ini kejam? Mungkin. Apakah ini efektif? Sangat.

Jadi, saat berikutnya kalian melihat tim mengangkat piala di panggung megah dengan kembang api, ingatlah satu hal: kemenangan terbesar malam itu bukan terjadi di layar raksasa, tapi di laporan keuangan yang sedang ditandatangani di ruang tertutup.

TR
Taufik Rahman

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Olahraga. Bersemangat menganalisis tren terkini.