Masyarakat

Senja di Kota Seribu Sungai: Saat Maghrib Menjadi Detak Jantung Banjarmasin

Di Banjarmasin, matahari terbenam bukan sekadar pergantian jam. Ia adalah sinyal bagi sungai, pasar, dan jiwa untuk beralih ritme. Inilah kisah tentang bagaimana 'Urang Banjar' menyambut senja.

SA
Siti Aminah
21 Februari 2026 pukul 11.013 menit baca
Senja di Kota Seribu Sungai: Saat Maghrib Menjadi Detak Jantung Banjarmasin

Pernahkah Anda berdiri di tepian Siring Pierre Tendean tepat ketika langit mulai memerah? Jika belum, Anda melewatkan salah satu teater alam paling spiritual di Indonesia. Bayangkan ini: suara mesin klotok (perahu kayu bermesin) yang tadinya menderu-deru membelah Sungai Martapura, perlahan mereda. Cahaya oranye memantul di permukaan air yang keruh namun penuh kehidupan, dan tiba-tiba, sebuah suara bergema.

Bukan sirine, bukan klakson kemacetan. Itu adalah suara bedug yang ditabuh bertalu-talu, disusul panggilan adzan yang saling bersahutan dari ratusan masjid. Di Banjarmasin, Maghrib bukan sekadar penanda waktu; ia adalah sebuah institusi budaya.

⚡ The Essentials

Bagi masyarakat Banjar, waktu Maghrib adalah transisi sakral yang mengubah wajah kota secara drastis. Dari hiruk-pikuk perdagangan sungai menjadi keheningan religius, momen ini diwarnai oleh tradisi unik seperti Basambang dan kepercayaan mistis menjaga bayi saat senja (sandikala). Masjid Raya Sabilal Muhtadin menjadi pusat gravitasi spiritual di momen ini.

Akustik di Atas Air

Ada fenomena fisika menarik yang terjadi di sini, yang oleh warga lokal dimaknai sebagai keajaiban spiritual. Suara merambat lebih baik di atas permukaan air, terutama saat udara mulai mendingin di sore hari. Akibatnya? Adzan Maghrib di Banjarmasin terasa mengepung Anda. Suara dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin—dengan kubah tembaganya yang ikonik—seolah 'berbicara' dengan adzan dari Masjid Sultan Suriansyah yang bersejarah di tepian Kuin.

Bagi Urang Banjar (orang Banjar), momen ini adalah perintah tak tertulis untuk berhenti. Warung-warung soto Banjar mungkin masih buka, tapi aktivitas melambat drastis. Ada rasa hormat yang mendalam terhadap waktu karamat ini.

"Di Banjarmasin, sungai adalah nadi ekonomi, tapi adzan Maghrib adalah detak jantung spiritualnya. Ketika senja datang, air pun seolah ikut bersujud dalam tenang." — Pengamat Budaya Lokal

Ritual Senja: Antara Mitos dan Kesalehan

Pernah mendengar istilah Basambang? Ini adalah versi lokal dari 'ngabuburit', tapi dengan nuansa yang lebih kontemplatif. Dulu, Basambang adalah waktu untuk berjalan santai menikmati senja sebelum masuk waktu sholat. Namun, ada sisi lain yang lebih mistis.

Para orang tua di Banjarmasin memiliki tradisi unik. Saat adzan Maghrib berkumandang, bayi-bayi kecil biasanya akan segera digendong atau diayun. Sebagian masyarakat meniupkan bacaan Surah Al-Qadr ke telinga bayi. Tujuannya? Melindungi si kecil dari gangguan makhluk halus yang dipercaya berkeliaran saat sandikala (peralihan siang ke malam). Ini adalah perpaduan menawan antara akidah Islam dan kearifan lokal yang bertahan di tengah gempuran gadget.

Transformasi Kota dalam Hitungan Menit

Apa yang sebenarnya terjadi pada infrastruktur sosial kota saat Maghrib tiba? Mari kita lihat perbandingannya secara sederhana.

Aspek KehidupanSiang Hari (Hustle)Saat Maghrib (Pause)
Transportasi SungaiLalulintas klotok & tongkang batubara padatHanya perahu penyeberangan darurat, sungai tenang
Pusat AktivitasPasar Terapung Lok Baintan / Pasar BaruMasjid & Langgar (Surau) di setiap gang
Suara DominanTransaksi jual-beli, mesin motorLantunan Al-Qur'an, Sholawat Tarhim
Atmosfer SosialIndividualis, berorientasi ekonomiKomunal, berorientasi ibadah (Jamaah)

Mengapa Ini Penting?

Di era di mana kita terbiasa dengan notifikasi 24 jam, Maghrib di Banjarmasin mengajarkan kita tentang the art of stopping. Kemampuan sebuah kota besar untuk 'menekan tombol jeda' secara kolektif adalah hal yang langka. Ini bukan hanya soal agama; ini soal kesehatan mental komunal. Ketika Anda melihat ribuan orang berbondong-bondong ke masjid atau menggelar sajadah di rumah panggung mereka di tepian sungai, Anda melihat sebuah masyarakat yang tahu prioritas.

Apakah tradisi ini akan bertahan? Dengan modernisasi dan pembangunan jembatan-jembatan baru yang menggantikan peran sungai, ada kekhawatiran bahwa syahdunya Maghrib di atas air akan tergerus bisingnya kendaraan darat. Namun, selama Sungai Martapura masih mengalir, tampaknya panggilan senja ini akan terus memiliki magisnya sendiri.

SA
Siti Aminah

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Masyarakat. Bersemangat menganalisis tren terkini.