Masyarakat

Sidang Isbat 2026: Teater Sains, Anggaran Negara, dan Ironi Hilal

Di era di mana AI bisa memprediksi cuaca tiga bulan ke depan, mengapa negara masih menghabiskan miliaran rupiah dan waktu prime-time televisi hanya untuk melihat langit? Sebuah tinjauan skeptis terhadap ritual tahunan yang menolak punah.

SA
Siti Aminah
12 Februari 2026 pukul 05.013 menit baca
Sidang Isbat 2026: Teater Sains, Anggaran Negara, dan Ironi Hilal

Kita sudah sampai di Februari 2026. Mobil otonom mulai merayap di jalanan ibu kota baru, dan algoritma kuantum sedang memetakan gen manusia. Namun, minggu ini, seperti jarum jam yang macet di angka yang sama, seluruh bangsa akan kembali menahan napas untuk sebuah pertanyaan yang—secara matematis—sebenarnya sudah terjawab bertahun-tahun lalu: Kapan puasa dimulai?

Sidang Isbat. Sebuah terminologi yang terdengar sakral, namun jika dikuliti dengan pisau bedah analitis, mulai terlihat seperti anomali birokrasi. Kementerian Agama akan kembali menggelar karpet merah, mengundang duta besar, pakar astronomi, dan pimpinan ormas untuk sebuah acara yang hasil akhirnya seringkali sudah tertulis di tabel ephemeris NASA.

"Pada akhirnya, Sidang Isbat di era digital ini lebih mirip seremoni kenegaraan daripada urgensi syariat. Kita punya aplikasi di saku celana yang akurasinya hingga nanosekon, tapi kita memilih drama menunggu telepon berdering dari Pelabuhan Ratu."

Matematika vs Mata Telanjang

Mari kita jujur sebentar. Konflik abadi antara metode Hisab (perhitungan matematis, favorit Muhammadiyah) dan Rukyat (observasi visual, pegangan NU dan Pemerintah) bukan lagi soal siapa yang benar. Ini soal identitas. Kriteria Neo-MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang menetapkan standar tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat seharusnya menjadi "jembatan emas". Tapi benarkah demikian? Atau itu hanya cara halus untuk memvalidasi metode rukyat dengan baju sains?

Tahun ini, posisi hilal memang unik. Data astronomi menunjukkan potensi visibilitas yang berada di area abu-abu—zona nyaman bagi perdebatan. Inilah perbandingannya:

MetodeBasis LogikaPosisi di 2026
Hisab Wujudul Hilal"Asal piringan bulan sudah di atas ufuk, itu bulan baru." Simpel, biner, tanpa drama cuaca.Sudah menetapkan tanggal jauh sebelum anggaran sidang cair.
Rukyatul Hilal"Seeing is believing". Validasi visual adalah kunci ibadah.Sangat bergantung pada kejernihan langit dan... subjektivitas pelapor.
Neo-MABIMSKompromi politis-astronomis. Mencoba menyatukan sains dan fiqih.Seringkali menjadi alat justifikasi keputusan pemerintah.

Anggaran di Balik Teropong

Ada satu aspek yang jarang dibicarakan di meja makan saat sahur: biaya. Menggelar tim pemantau di puluhan (kadang ratusan) titik di seluruh Indonesia bukanlah operasi sukarela. Ada logistik, ada sewa peralatan canggih, ada akomodasi.

Apakah salah negara memfasilitasi keyakinan warganya? Tentu tidak. Tapi sebagai analis yang melihat efisiensi, pertanyaannya tetap menggantung: Jika Muhammadiyah bisa menentukan 1 Ramadan dan 1 Syawal hingga sepuluh tahun ke depan dengan biaya nol rupiah (karena berbasis data statis), seberapa besar value yang kita dapatkan dari ketidakpastian yang "dilembagakan" ini?

Sektor bisnis, maskapai penerbangan, dan logistik ritel membenci ketidakpastian. Mereka butuh tanggal pasti untuk lonjakan kargo dan cuti karyawan. Namun setiap tahun, kita memaksa ekonomi makro untuk menunggu pengumuman Menteri Agama di podium, seolah-olah kita sedang menunggu hasil undian lotere nasional.

Mungkin, hanya mungkin, kita menikmati ketegangan ini. Sidang Isbat telah menjadi budaya pop tersendiri. Sebuah reality show relijius di mana antagonisnya adalah awan tebal dan protagonisnya adalah seorang bapak tua di Gresik yang bersumpah melihat bulan sabit tipis. Di tahun 2026, tradisi ini bertahan bukan karena kita kekurangan teknologi, melainkan karena kita (diam-diam) mencintai polemiknya.

SA
Siti Aminah

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Masyarakat. Bersemangat menganalisis tren terkini.