Thomas Frank: Nabi yang Diabaikan atau Sekadar Nostalgia Kelas Pekerja?
Sementara kaum liberal sibuk menyalahkan algoritma dan rasisme atas kekalahan elektoral, Thomas Frank telah meneriakkan penyebab sebenarnya selama dua dekade. Spoiler: Masalahnya bukan pada pemilih, tapi pada pesta cocktail kaum elit.

Ada kepuasan tersendiri, meski agak masokis, saat membaca ulang Thomas Frank hari ini. Sejarawan dan analis budaya asal Amerika ini telah menghabiskan sebagian besar kariernya untuk membongkar satu misteri besar: mengapa kelas pekerja Amerika—yang secara historis adalah tulang punggung kaum Kiri—kini berbondong-bondong lari ke pelukan kaum Kanan populis?
Jika Anda bertanya kepada konsultan politik di Washington atau pengamat di Brussels, jawabannya sering kali klise. Rasisme. Kurangnya pendidikan. Misinformasi. (Selalu lebih mudah menyalahkan audiens daripada naskahnya, bukan?).
Tapi Frank, dengan ketajaman yang nyaris kejam, menolak narasi itu. Bagi dia, kebangkitan populisme sayap kanan bukan sekadar anomali atau 'kecelakaan sejarah'. Itu adalah konsekuensi logis dari pengkhianatan sistematis.
"Kaum Demokrat tidak lagi menjadi partai kelas pekerja. Mereka adalah partai dari kaum profesional: dokter, pengacara, insinyur, manajer, dan mereka yang memiliki gelar sarjana lanjutan." — Thomas Frank, Listen, Liberal
Diagnosis yang Menyakitkan: Meritokrasi sebagai Racun
Mari kita jujur sejenak. Kritik Frank terhadap lanskap politik kontemporer berpusat pada pergeseran fokus dari "solidaritas" ke "meritokrasi". Partai-partai kiri-tengah di Barat (dari Demokrat di AS hingga Partai Buruh di Inggris) berhenti berbicara tentang serikat pekerja dan upah minimum yang layak, dan mulai terobsesi dengan "kesempatan" dan "inovasi".
Pesan tersiratnya brutal: Jika Anda miskin, itu karena Anda tidak belajar cukup keras. Jika pabrik Anda tutup dan pindah ke luar negeri, Anda seharusnya belajar coding.
Frank menyebut ini sebagai tirani Professional-Managerial Class (PMC). Ketika politisi lebih nyaman berbicara di TED Talks daripada di aula serikat buruh, ada keterputusan fundamental yang terjadi. Inilah celah yang dieksploitasi oleh populisme kanan. Donald Trump, terlepas dari segala kemewahannya yang norak, datang dan berkata: "Sistem ini curang." Dan bagi buruh baja di Rust Belt, kalimat itu terdengar jauh lebih jujur daripada statistik pertumbuhan PDB yang disodorkan para teknokrat.
👀 Apakah Kaum Liberal Mendengarkan Peringatan Ini?
Singkatnya: Tidak.
Meskipun buku Frank "What's the Matter with Kansas?" menjadi bestseller, strategi politik kaum liberal justru semakin menjauh dari kelas pekerja. Data menunjukkan bahwa dalam pemilu AS terakhir, dukungan kelas pekerja (termasuk minoritas) terhadap Partai Demokrat terus terkikis, sementara partai tersebut semakin mengkonsolidasikan suara di daerah pinggiran kota yang kaya dan berpendidikan tinggi. Frank sudah memprediksi ini: ketika Anda menghina basis pemilih Anda sendiri sebagai "menyedihkan" (ingat Hillary Clinton?), jangan kaget jika mereka tidak muncul di tempat pemungutan suara.
Bukan Sekadar Ekonomi, Tapi Martabat
Namun, di sinilah saya harus sedikit skeptis terhadap determinisme ekonomi Frank. Dia cenderung melihat perang budaya (isu gender, agama, senjata) sebagai sekadar "pengalih perhatian" yang diciptakan kaum Kanan untuk mengelabui orang miskin agar memilih melawan kepentingan ekonomi mereka.
Apakah sesederhana itu? Mungkin tidak.
Kritik Frank kadang melewatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari roti (atau kebijakan pajak). Rasa dihargai, rasa memiliki identitas nasional, dan ketakutan akan perubahan sosial yang cepat adalah motivator yang kuat. Populisme menang bukan hanya karena janji ekonomi palsu, tetapi karena ia menawarkan validasi emosional yang telah lama ditolak oleh kaum elit kosmopolitan.
Meskipun begitu, relevansi Frank tetap tak terbantahkan. Dia adalah alarm kebakaran yang terus berdering di gedung yang penghuninya sibuk memakai headphone peredam bising. Selama partai-partai mapan terus melayani kepentingan teknokrasi global dan mengabaikan penderitaan nyata di tingkat akar rumput, analisis Thomas Frank akan tetap menjadi ramalan yang terus terpenuhi dengan sendirinya.
Kita sedang menyaksikan penataan ulang politik global. Garis pembatas bukan lagi Kiri vs Kanan dalam pengertian tradisional, melainkan Atas (elit terdidik) vs Bawah (sisanya). Dan saat ini, skor di papan skor tidak terlihat bagus untuk tim Atas.


