Tekno

Tuhan dalam Algoritma: Saat Notifikasi Ponsel Menggantikan Beduk Masjid

Suara mesin espresso di sebuah kafe Jakarta tiba-tiba bersaing dengan getaran azan digital dari smartwatch. Kebutuhan spiritual kini tidak lagi bergantung pada bayangan matahari, melainkan pada presisi sinyal GPS.

EP
Eko Pratama
29 Maret 2026 pukul 22.013 menit baca
Tuhan dalam Algoritma: Saat Notifikasi Ponsel Menggantikan Beduk Masjid

Bima, 28 tahun, sedang fokus menuangkan latte art di sebuah kedai sibuk di Jakarta Selatan ketika pergelangan tangannya bergetar pelan. Sebuah notifikasi muncul di layar kecil Apple Watch-nya: Waktu Asar telah tiba. Tidak ada tabuhan beduk, tidak ada sayup-sayup panggilan muazin dari kejauhan. Hanya getaran algoritmik yang presisi, mengingatkannya untuk sejenak melepaskan urusan duniawi. (Bukankah ironis bahwa perangkat yang paling sering mendistraksi kita kini menjadi satu-satunya yang memanggil kita untuk kembali fokus?).

Ini bukan sekadar cerita tentang rutinitas seorang barista. Di seluruh penjuru bumi, ratusan juta umat Muslim kini mendelegasikan ingatan spiritual mereka kepada barisan kode pemrograman. Aplikasi seperti Muslim Pro, Umma, hingga Al-Quran Indonesia telah mengubah cara sebuah generasi mempraktikkan ritus sakral yang usianya sudah ribuan tahun. Apakah Tuhan mengerti bahasa biner? Mungkin bukan itu esensi pertanyaannya. Apa yang jarang dipertanyakan adalah: bagaimana teknologi diam-diam merombak tekstur keimanan kita?

👀 Skandal Senyap di Balik Notifikasi
Kita mengunduh aplikasi untuk mencari arah kiblat, namun sering kali tanpa sadar kita menyerahkan jejak digital yang berharga. Beberapa aplikasi salat arus utama sempat terjerat pusaran kontroversi mengenai bagaimana data lokasi pengguna dipanen dan dikelola. Di tahun 2026, pengembang memang berlomba menawarkan enkripsi yang lebih baik serta asisten kecerdasan buatan untuk menjawab pertanyaan fikih, tetapi transaksinya tetap sama: kemudahan spiritual dibayar dengan koordinat privat Anda.

Mari beralih ke sudut yang jarang diterangi lampu sorot: komersialisasi ruang sakral. Saat Anda sedang khusyuk membaca doa setelah salat langsung dari layar ponsel, sebuah iklan pinjaman daring atau asuransi jiwa tiba-tiba menutupi layar. (Bayangkan sebuah billboard neon raksasa mendadak menyala di tengah saf masjid). Untuk menyingkirkan gangguan duniawi tersebut, Anda diwajibkan membayar biaya langganan premium. Kesucian kini memiliki label harga, dibanderol dalam skema tagihan bulanan.

"Kita tidak lagi berusaha mengingat waktu Tuhan; kita hanya duduk pasif, menunggu peladen awan (cloud server) mengingatnya untuk kita."

Namun, bersikap sinis sepenuhnya juga tidak adil. Bagi seorang pekerja migran di pinggiran Seoul, atau mahasiswa yang sedang berjuang di tengah musim dingin Eropa tanpa satupun masjid di radius puluhan kilometer, aplikasi-aplikasi ini adalah sebuah garis hidup. Kompas digital di balik layar kaca yang retak itu bertransformasi menjadi satu-satunya tali pusar yang menghubungkan mereka dengan jutaan jemaah lain di seluruh dunia.

Pada akhirnya, Bima mematikan mesin kopinya sejenak. Ia menggelar sajadah tipis di ruang istirahat kafe, menghadap ke arah yang ditunjukkan oleh jarum piksel merah di ponselnya. Kebutuhan dasar manusia untuk terhubung dengan entitas yang lebih besar dari dirinya sendiri tidak pernah berubah. Mediumnya saja yang kini harus diisi ulang baterainya setiap malam.

EP
Eko Pratama

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Tekno. Bersemangat menganalisis tren terkini.